Oleh Elisa DS (Lampung Post, 18 Februari 2018)

Liburan akhir pekan ini, Lisa mengunjungi Paman Raka, adik ibunya yang berdomisili di Bandar Lampung. Meskipun perjalanan yang ditempuh dari Kota Liwa lumayan jauh, Lisa sangat menikmatinya karena ia bisa mencuci mata dengan melihat rimbunnya hutan dan jalanan yang berkelok-kelok.
Lisa menarik napas lega saat mobilnya berbelok ke sebuah halaman yang luas. Ia berdecak kagum melihat koleksi tanaman hias milik Paman Raka. Bugenvil, mawar, melati, euphorbia, nona makan sirih, dan aneka kaktus menghiasi taman yang berada di samping kolam ikan koi. Gemericik air mancur yang keluar dari bambu-bambu kecil membuat rumah paman yang asri bertambah indah.
Saat Paman Raka dan ibu berbincang-bincang melepas rindu di ruang tamu, Lisa duduk di teras sambil memandangi kecipak ikan koi di kolam. Angin sepoi-sepoi membelai pipinya. Beberapa kali kantuk datang menyerang, akhirnya ia pun bangkit dan mengambil buku cerita dari dalam tas, lalu membacanya sambil selonjoran di depan televisi.
Hampir tiga puluh menit Lisa tenggelam dengan bacaannya, hingga tak menyadari Paman Raka sudah duduk di sampingnya.
“Wah, Lisa suka membaca, ya?” tanya Paman Raka.
Lisa mengangguk sambil tersenyum.
“Sepertinya buku dongeng.” Paman mengamati buku yang dipegang Lisa.
“Iya, Paman. Ini dongeng tentang raksasa jahat yang ingin memangsa manusia bernama Timun Mas.”
“Raksasa sering digambarkan sebagai sosok jahat dalam dongeng, beda dengan raksasa teman paman. Dia baik sekali dan suka membantu manusia.”
“Ah, yang benar, Paman?” Lisa mendelik. “Raksasa kan cuma ada dalam dongeng.”
“Kata siapa raksasa cuma ada dalam dongeng?” Paman balik bertanya. “Di dunia nyata zaman sekarang pun masih ada raksasa. Salah satunya adalah teman paman.”
Lisa melongo keheranan.