Oleh Lince M. Hia (Analisa, 07 April 2019)

ELEKTRA terus berlari di dalam rumah yang besar itu, rumah yang terlihat sangat seram di malam hari. Dia terus berlari mencari pintu keluar yang tidak kunjung dia temukan. Angin menghembus dadanya, nafasnya terengah-engah. Seketika kesunyian yang mencengkamlah yang dirasakan Elektra, dia memberanikan diri melihat ke belakang dan melihat Sarung Tangan itu terus merangkak ke arahnya dengan cepat.
“Sialan! Apa enggak capek dari tadi merangkak mengejar aku,” seru Elektra. “Bisa enggak sih istirahat sebentar aja? Aku udah capek nih, dikejar sama kamu mulu,” kata Elektra sembari mengatur nafas, kemudian kembali berlari mencari pintu keluar dari rumah. Sarung Tangan terus mengejar dari belakang. Lampu tiba-tiba padam, seketika langkah kaki Elektra terhenti dan berdiri kaku.
“Oh Tuhan, ada apalagi ini. Sekarang ketakutanku sudah menjadi sangat sempurna bagai lagu Andra and The Backbone, aku harus bagaimana?” seru batin Elektra dengan ketakutan. lalu dengan perlahan dia berjalan sangat pelan seperti seorang pencuri.
“Pintu oh Pintu di mana letakmu?” Batin Elektra “Pah, Mah, cepat pulang. Anakmu dalam kesengsaraan batin sekarang,” kata Elektra dalam hati sambil berjalan pelan mencari Pintu keluar rumah.
Ceklek (suara pintu terbuka).
“Siapa itu?” Tanya batin Elektra dengan dibarengi perasaan yang sangat takut membuat bulu kuduknya merinding.
Bruakkk, (tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbanting).
Membuat Elektra kaget bukan kepalang, dia berusaha tetap tenang dan bersembunyi di bawah meja. Dia terus memanggil Ayah dan Ibunya dalam hati, agar mereka cepat pulang. Sesuatu yang aneh menyentuh kaki Elektra, sesuatu itu terus bergerak-gerak di kakinya.
“Aku harus minta tolong sama siapa? Handphone pakai acara ketinggalan di kamar lagi.” Kesal batin Elektra. Dengan berani dia meraba sesuatu itu di kakinya, dan ternyata Sarung Tangan yang mengejar dia tadi. Spontan dia langsung berdiri sehingga kepalanya terbentur keras di bawah meja.
“Aw! Meja sialan!” Dengan rasa sakit yang terasa, Elektra keluar dari bawah meja dan berlari tanpa tujuan di dalam rumah itu.