Oleh Nabila Anggraini (Analisa, 21 April 2019)

PADA saat aku kembali dari rumah sakit, aku langsung menuju menggunakan tongkat aku meraba setiap jalan. Saat aku membuka kamar aku menuju meja belajarku dan aku mendapatkan benda seperti sebuah bunga.
“Hmm pasti ini kerjaan kamu Mila, keluarlah aku tahu kamu pasti tersembunyi di sekitar sini,” ucap Rani.
Tiba-tiba terdengar suara pintu bergerak.
“Hehehe, kamu kok tahu aku sembunyi,” kata Mila dengan kesal.
“Yah taulah kamu kan selalu bawain aku bunga setiap kali kita jumpa,” kataku.
“Oh ya, bagaimana keadaan mata kamu Rani?” tanya Mila.
“Kata dokter aku masih bisa melihat kembali tetapi belum ada yang menunggu orang yang ingin mendonorkan mata kepadaku dan aku rasa tidak ada yang akan memberikan kepadaku,” katanya degan harapan.
“Kamu jangan sedih Rani. Aku yakin pasti akan ada seseorang yang akan memberikannya kepada kamu,” katanya.
Mataku menjadi begini usai kecelakaan yang lalu, di mana aku kehilangan indra penglihatanku. Milalah yang setia menemaniku dan dia tidak sedikitpun takut malu denganku, aku sangat menyayanginya dan dialah sahabat sejatiku. Sahabatku yang satu ini juga selalu memberiku bunga setiap kali kami bertemu, mungkin ia tidak mau melihatku sedih dan ingin aku selalu tersenyum.
“Heii Rani bangunlah ayo kita jalan pagi hari ini sambil menghirup udara segar,” aduhh Rani aku masih mengantuk rengekku.
“Hei kamu jadi pemalas yaa sekarang, ayo buruan bangun Rani,” Mila menariknya.
Walaupun aku tidak bisa melihat, tapi mungkin aku bisa melihat kalau bersama Mila Karena di setiap perjalanan kami dia menjelaskan meminta indahnya bunga yang sedang mekar, pohon yang daunnya berguguran dan masih banyak lagi.
“Oh ya Ran, aku dan keluargaku besok akan mengunjungi rumah paman, jadi aku tidak bisa menemanimu,” jelasnya.
“Iyah tidak apa-apa, Mil, lagian kan ada Bi Tia,” jawabku.