Tanah Wakaf

Cerpen Eri Setiawan (Suara Merdeka, 23 Januari 2022)

MALAM itu petir menderu. Suara tangis yang bersahut-sahutan ikut serta menjadi kengerian. Sebuah rumah yang awalnya cukup senyap, tiba-tiba saja menjadi ramai sekali. Terdengar pula jeritan seorang perempuan yang amat melengking sampai-sampai menenggelamkan suara gelegar petir.

Panjul bergegas memakai sarung dan mengambil payung di pedangan, lantas pelan-pelan berjalan menuju rumah itu.

“Ada apa, Kang?” tanya Panjul pada Kang Sobri yang tengah berdiri di depan pintu, “Kenapa tidak ikut masuk?”

“Kyai Sunar meninggal, Jul, padahal setahuku ia sehat-sehat saja.?”

“Hah? Innalilahi….

Panjul mencari celah di antara orang-orang yang tengah berdiri di depan pintu. Ia masuk dan sampailah di kerumunan tangisan itu. Tampak kedua mata Kyai Sunar sudah tertutup rapat dan kedua tangannya disedekapkan. Ketika ia cermati wajahnya, tampak bibirnya tersenyum damai bak tengah bermimpi berjumpa dengan Sang Khalik. Berbeda sekali dari wajah anak-anaknya yang terlihat sedih. Wajahnya bak tergurat penderitaan yang bernas. Entah dibuat-buat atau memang kenyataan. Sampai-sampai ada yang menangis, tapi tak terlihat lagi air matanya meleleh jatuh.

Entah waktu itu, Panjul ingin sekali berbisik padanya, Yu Ronah, perempuan paruh baya yang sepertinya dilanda kesedihan yang hebat, tapi entahlah karena jika dicermati seperti dilebih-lebihkan.

“Yu, kematian itu takdir. Bukan hal lain. Yu Ronah seharusnya bahagia karena Kyai Sunar wafat dalam keadaan shaleh. Kyai Sunar juga sepertinya lega karena tidak akan kena semprot dan ocehan pedas lagi. Lihat saja, Yu, senyumnya begitu damai.”

Sesudah laki-laki belasan tahun itu menuntaskan bisik-bisiknya di telinga sebelah kanan Yu Ronah, kedua mata itu justru terbuka penuh dan tajam. Tatapannya seperti ingin mencakar dalam-dalam.

Pelan-pelan Panjul mulai ketakutan sendiri. Daripada Yu Ronah makin ngamuk, ia segera memohon maaf dan berjalan mundur menjauh dari kerumunan tangisan itu.

“Ada apa, Jul, kok kelihatannya ketakutan?” tanya Kang Sobri curiga.

“Tidak apa-apa, Kang. Aku mungkin salah ngomong, jadinya Yu Sonar marah dan ingin mencakarku.”

“Heh! Makanya jangan berani-berani sama perempuan tua itu, Njul. Kalau tersinggung, kamu bisa dimaki-maki habis-habisan. Kyai Sunar saja semasa hidupnya sering dapat semprot dari anak sulungnya itu. Boro-boro nurut sama orang tua, diajak jamaah saja langsung nyolot katanya jangan berlebihan sama agama. Kalau berlebihan, nanti ujungnya menyalah-nyalahkan budaya.”

Panjul hanya tersenyum kecil pada Kang Sobri sembari mengambil payung dan berjinjit pergi.

***

Berita wafatnya Kyai Sunar cepat tersebar sampai pelosok desa. Orang-orang berduyun-duyun melayat dan ikut berduka cita di hadapan anak dan cucunya.

“Yang sabar, ya, Kang.”

“Yang tabah, Yu. Semua sudah digariskan.”

“Insya Allah husnul khatimah, Kang, Yu.”

“Pak Kyai orang yang shaleh pasti mendapat tempat yang hangat di sana, Yu, Kang.”

Selesai menshalatkan jenazah, orang-orang mulai bersiap-siap untuk ikut serta mengantarkannya ke kuburan. Tiba-tiba, ketika Panjul lewat di depan segerombolan Kang-Kang yang sedang nglepus, kata-kata kurang enak terdengar cukup jelas di telinganya. Ia pun memelankan langkah kaki.

“Sehabis Kyai Sunar dimakamkan, pasti akan ada huru-hara.”

“Pasti itu. Apalagi Yu Sonar dan Kang Jamal adiknya itu yang selama ini terkenal pelit dan garang pasti saling rebutan.”

“Aku pernah dengar dari Kyai, ingin sebagian tanahnya diwakafkan untuk pembangunan masjid dan apa, ya, satunya aku lupa.”

“Lah itu. Pasti jadi akar masalahnya setelah ini. Selama ini yang ngalim, kan, hanya Kyai. Mana pernah istri dan anak-anaknya jamaah di masjid. Paling-paling hanya Yu Sinah yang cukup rajin.”

Sepertinya mereka mulai mencurigai Panjul karena jalannya makin pelan.

Nguping, Jul? Ora ilok! Sana jalan saja!”

“Bahaya. Panjul itu, kan, masih saudaranya Yu Sonar. Bisa-bisa kita dilaporkan.”

“Sudah-sudah, Panjul tidak seperti itu. Aku kenal Panjul.”

Upacara pemakaman Kyai Sunar pun selesai. Orang-orang mulai meninggalkan kuburan. Yang tampak paling akhir meninggalkan kuburan waktu itu adalah Yu Sinah, anak bungsunya, yang terkenal pendiam dan lebih suka mengalah dengan kakak-kakaknya.

***

Cerita dari orang-orang ternyata benar bahwa sebagian tanah milik Kyai Sunar diwakafkan. Surat wasiat itu menyatakan bahwa sebagian kecil tanah Kyai Sunar diwakafkan untuk lahan pembangunan masjid, sebagian kecil lagi untuk pembangunan TPQ, dan sebagian kecil lagi untuk dijual dan disumbangkan ke anak yatim-piatu. Kalau ditotal, tanah wakafnya menjadi separuh dari total tanah milik Kyai Sunar.

Mengetahui itu, Yu Sonar dan Kang Jamal sempat berpikir tidak habis pikir. Padahal, mereka berdua sudah menunggu saat-saat itu. Waktu di mana mereka mendapatkan bagian tanah yang cukup luas, yang nantinya tanah itu dapat dijadikan lahan usaha dan selebihnya dijual untuk membangun rumah supaya lebih megah. Akhirnya, mereka bergegas merobek surat wasiat itu.

Ora mungkin. Kyai Sunar tidak mungkin akan mengecewakan anak-anaknya. Surat wasiat ini pasti telah diubah. Surat wasiat ini palsu.”

“Ini benar-benar ….”

“Kami tidak menerima itu,” potong Kang Jamal bersungut-sungut.

Usai berdebat, akhirnya antara pemberi kabar wasiat dan anak-anak Kyai Sunar menemui kesepakatan, yaitu sebagian kecil tanahnya boleh diwakafkan untuk pembangunan masjid, tapi bukan tanah yang letaknya strategis. Laki-laki pemberi kabar wasiat itu sebenarnya masih kurang setuju karena mereka benar-benar tidak menjalankan apa yang telah tertulis di surat wasiat itu.

Bisa disimpulkan bahwa tidak akan ada tanah wakaf untuk pembangunan TPQ dan penjualan tanah untuk sumbangan anak yatim. Namun, baginya, mau bagaimana lagi. Mau merayu istri Kyai Sunar juga tidak mungkin karena sekarang sudah lumpuh. Mau menyadarkan mereka sampai mati-matian sepertinya juga mustahil, apalagi mereka seperti sudah bersekongkol dengan amat kuat, tidak seperti yang dibicarakan orang-orang.

***

Kira-kira setelah setengah tahun berjalan, uang pembangunan masjid telah terkumpul, yang tidak lain dari hasil mencari donor dana dari negeri Arab dan infak rutin dari warga setempat. Namun, rupa-rupanya, setelah seperempat jalan pembangunan masjid itu, masalah baru pun muncul dan tidak jauh-jauh. Masih ingat dengan Yu Sinah, kan?

Pembangunan masjid itu ternyata tepat di hadapan rumah Yu Sinah, yang ternyata membuat akses jalan masuk-keluar menjadi teramat sempit. Untuk lewat sepeda motor saja harus benar-benar hati-hati, apalagi mobil? Bukankah bisa saja suatu waktu keluarga Yu Sinah bisa membeli mobil? Tidak akan muat! Awalnya Yu Sinah diam saja karena tidak berani melawan kedua kakaknya itu, tapi lama-kelamaan akibat telinganya sering diserobot oleh kata-kata keluhan dari Kang Mahdi, suaminya, ia pun tak bisa diam lagi.

“Bapak tidak akan senang atas pembangunan masjid itu, Yu, Kang.”

“Ada apa? Bukankah itu bunyi surat wasiatnya?” tanya Kang Jamal cukup heran.

“Iya, tapi bukan perkara itu. Lihat! Sekarang aku susah untuk keluar masuk rumah!”

“Ya, mau bagaimana lagi. Lahannya memang sempit. Kalau tidak begitu, nanti yang berdiri bukan masjid, tapi mushala. Durhaka nanti!” Yu Sonar nyambung.

“Bukannya memang sudah durhaka dari dulu?”

“Maksudnya? …. Siapa?”

Yu Sinah membisukan kata-katanya. Ia tak ingin lebih jauh mencari keributan. Bisa-bisa akses jalan rumahnya nanti akan benar-benar tertutup rapat.”

***

Malam itu sunyi menyeringai batin. Yu Sinah menangis mangsek-mangsek di halaman rumahnya. Sendirian. Putranya ngelayab entah ke mana, sedangkan suaminya sepertinya tengah mancing ikan di sungai dekat persawahan. Kedua matanya tampak mulai kosong memandangi bangunan masjid yang hampir sempurna itu. Sekelebat, ia melihat bayangan Kyai Sunar dan mendengar lirih ringikan tangisannya sambil lalu.

“Yu, kalau tidak salah, aku tadi lihat Kang Mahdi berjalan cepat-cepat ke arah rumah Yu Sonar atau mungkin bisa saja belok kiri menuju rumah Kang Jamal sambil menggenggam golok kuat-kuat,” ucap Panjul seraya lewat membawa alat pancing dan hasil pancingannya. ***

.

.

Eri Setiawan lahir di Banjarnegara 23 Januari 1993. Sekarang mengajar di SMP Negeri 2 Pengadegan, Purbalingga. Gabung di komunitas menulis (Komunitas Penyair Institut) Purwokerto. Novel pertamanya, Bujuk Dicinta Kenangan pun Tiba.

.

Tanah Wakaf. Tanah Wakaf. Tanah Wakaf. Tanah Wakaf.

Arsip Cerpen di Indonesia