Cerpen R Yulia (Media Indonesia, 13 Februari 2022)
1
PAGI merambat lamban sepenuh kabut. Sudah pukul tujuh, tetapi matahari masih membayang samar. Tuan Rez pasti tak menyukai pagi muram seperti ini, batinku. Mood-nya mungkin tidak sebaik dua hari lalu: ia bisa tertawa oleh sebab remeh semisal kucing yang terpeleset di ujung tangga atau jemari sopir yang terjepit pintu seorang lelaki muda dengan kepala tertutup tabung udara dan mengendarai flying motorcycle teranyar, tiba di depan rumah. Aku sudah menunggunya dari tadi dengan kegusaran yang tak tertahankan seperti gabus penutup botol yang tak kuat menahan dorongan gas dari dalam.
“Lama sekali?!” songsongku menggerutu.
Kuperiksa tabung oksigen yang melingkari kepalaku untuk memastikan stoknya masih cukup untuk aktivitas seharian. Aku harus berhemat untuk alasan klasik: bertahan hidup!
Ia nyengir lebar, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. Senyumnya maut. Aku tahu benar berapa lama ia melakukan rekonstruksi gigi termutakhir, demi agar gigi kebanggaannya itu bisa tampil cling!
“Gigi itu modal utama memikat lawan jenis sebelum kata-kata. Senyuman ialah diplomasi tertinggi untuk mengikat hati.” Itu acap dikatakannya ke semua orang. Jomlo murahan, kecamku dalam hati.
“Ayo!” Aku meloncat ke dudukan belakang flying motorcycle dan menepuk pundaknya cukup keras. Ia mengaduh pelan.
“Kau tak ada lembutnya jadi perempuan!” gerutunya sembari menekan tombol gas dan flying motorcycle terbang dengan kekuatan seekor elang jantan.
“Kau tak ada gegasnya jadi lelaki!” aku membalikkan tudingannya.
Dari ketinggian aku memandang kota yang serupa koleksi lego building set masa kecil ibuku yang disimpan di lemari gudang. Kupikir, kelak gedung-gedung itu akan ditinggalkan setelah pemiliknya bosan, diledakkan, kemudian dibangun baru lagi dengan arsitektur futuristis yang tak terbayangkan.
2
Entahlah, terkadang aku merindukan rumah-rumah tempo dulu seperti yang didiami ibu dan ayahku, juga para tetangga mereka.
Beberapa driver flying motorcycle dengan tipe standar hilir mudik di bawah kami. Mereka tak sedang terburu-buru tampaknya, melaju lamban seperti burung camar yang mengintai ikan di lautan.
Kami melesat di atas puncak-puncak bangunan itu, sesekali menukik dan berbelok cepat. Ia bahkan beberapa kali menyalip mobil terbang milik pejabat dan orang kaya kota, tanpa takut di-banned atau kena e-tilang di lampu merah. Sepertinya speed radar sedang tidak berfungsi—entah kenapa. Tempo hari malahan lebih seru; speed radar melakukan perekaman udara sepasang remaja yang tengah bercinta di roof top terminal kafe dan meledakkan tabung udara yang mereka kenakan.
Tak bisa kubayangkan betapa sakitnya bernapas di udara bebas yang tingkat polusinya telah jauh melesat dari ambang batas, dengan beraneka virus yang berlomba memasuki tubuh mereka.
Pemerintah rasanya makin kacau saja. Berbagai sarana publik dibiarkan tak berfungsi dan tak ada tanda-tanda akan diperbaiki dalam waktu cepat. Para politisi malah sibuk merecoki program-program penanganan virus ketimbang mengoreksi realisasi pembangunan perkotaan yang tak menyisakan zona hijau.
Sebatang pohon ialah teror atas kehidupan, yang diyakini menjadi tempat persembunyian green virus. Dari tayangan berita televisi yang kuiikuti, green virus merupakan generasi virus terbaru yang sangat berbahaya bagi manusia. Ia menyebar dari dedaunan hijau yang dikonsumsi baik dalam bentuk makanan maupun bahan-bahan kecantikan herbal.
Efeknya ialah mengisap habis cairan tubuh manusia dalam waktu dua hari setelah terinfeksi, tubuh tersebut akan berjuang melawan rasa sakit akibat pengeringan dari dalam. Kulit mengeriput dengan cepat dan hanya menyisakan lembaran kering menutupi tulang, rambut hangus terbakar, serta sorot mata putus asa para penderitanya. Beberapa orang yang sedang dalam proses penyelamatan dikarantina, memilih mengakhiri hidupnya sebelum malaikat maut tiba.
Kami tiba dalam waktu 10 menit di pelataran roof top yang padat. Aku mengaktifkan microchip dan bergegas masuk melewati gerbang pemindai, meninggalkan lelaki itu di parkiran.
Aku tahu ia akan berteriak-teriak kesal dan berlari menyusulku tanpa mengaktifkan microchip-nya, lalu terhalang di gerbang pemindai, mengumpat dan mengetuk tabung udara kepalaku begitu ia berhasil menyusul dengan napas tersengal. Aku merapatkan sarung tangan antivirus dan bergegas menuju labirin work space.
3
“Aku duluan,” kataku begitu mendapati ruang kerja, dan menutup pintu sebelum lelaki itu mengucapkan apa-apa lalu mengaktifkan pengaman pintu elektronik.
Dari balik pintu kaca yang kedap suara aku tertawa melihat ia melontarkan kalimat yang tak mampu menjangkau telinga. Ia mengacungkan tinjunya dan aku membalasnya dengan memberikan ciuman jauh serta kerlingan. Tidak, tidak, itu bukan dimaksudkan untuk menggoda seperti yang ada di film-film zaman dulu. Lagi pula, tak berguna melakukan flirting di masa tabung udara kepala menjadi raja. Semua hal dilakukan to the point, tanpa mukadimah: termasuk bercinta! Melepas tabung udara ialah bunuh diri.
Dari ruangan seperti akuarium raksasa ini, aku bisa melihat Tuan Rez di ruang kerjanya. Jarak kami terpaut tiga kubikel kaca milik mitra kerja lain. Ia menghadap jendela dengan wajah muram dan dua tangan terlipat di dada dan menatap kosong ke luar sana. Aku yakin ia tak sedang memperhatikan flying motorcycle terbaru yang wira-wiri di hadapannya. Sepertinya ia tengah berpikir keras tentang sesuatu. Mungkin tentang bisnis e-medianya yang mulai suram dan memilikirkan terobosan baru apa yang bisa ditempuh untuk bertahan di tengah gempuran info pabrikan dari jagad virtual.
Semua orang saat ini bisa membuat berita sendiri di jagad maya dengan hanya memasukkan satu paragraf berisi dua kalimat yang menjadi inti pikiran berita ke aplikasi. Dengan hanya mengunduh aplikasi fabricnews, setiap orang sudah bisa memproduksi berita. Aplikasi tersebut hanya meminta personal ID kita, nomor telepon, dan informasi berita yang ingin dibuat; selesai! Ia bisa mengembangkan sendiri paragraf itu sesuai dengan keinginan.
Tuan Rez masih mematung di ruangannya. Namun kemudian, ia bergerak ke dekat jendela dan mengubah mode kaca menjadi gelap.
“Bisnis kita sekarang tengah lesu,” Tuan Rez mengeluhkan hal itu 15 menit kemudian, setelah menghidupkan mesin komunikasi internal dan memanggilku ke ruangannya.
“Kita tak punya pemasukan yang berarti lagi di lini iklan. Semua memilih beriklan sendiri atau membanjiri spot-spot publik yang memberikan diskon gila-gilaan,” keluhnya. Aku terdiam menekuri lantai, membenarkan kalimatnya.
“Lagi pula, Nea, aku sedang sakit. Aku merasa sesuatu sedang tidak baik-baik saja di bawah kulitku.”
4
Aku sontak mendorong kursi ke belakang, berdiri dan mundur beberapa langkah sembari menatapnya nanar.
“Sakit?” Aku menatapnya dengan cemas. Ia mengangguk, lalu merapat ke dinding di belakangnya.
Aku mulai ketakutan.
“Pak, apakah… Apakah Anda sakit i..i..itu, Pak?” Aku mencoba memastikan dan mendekati pintu keluar.
“Tenanglah, Nea. Aku tidak akan mencelakakan dan menularimu. Iya. Aku merasakan beberapa gejala green virus setelah menyantap sayur setengah matang kemarin petang,” katanya mencoba menyembunyikan kegugupan yang begitu kentara di mata dan wajahnya.
“Apa yang harus saya lakukan, Pak?” Aku mulai panik.
Kudekati mesin komunikasi dan mulai memanggil seseorang, juga rekan kerja di kubikel sebelah.
Mereka tak datang secepat yang kuinginkan.
“Pergilah. Ajak seluruh pegawai mengosongkan gedung.”
Aku terperangah. Apa yang ingin dilakukan Tuan Rez?
Sembari menahan sakit ia memberi isyarat agar aku segera pergi. Di luar kubikel Tuan Rez, beberapa orang berkumpul dengan wajah cemas. Aku membuka pengaman pintu dan meminta mereka semua keluar dari gedung seperti permintaan Tuan Rez.
“Apa yang terjadi?” tanya lelaki itu begitu dekat denganku. Ia melirik Tuan Rez.
“Sepertinya ia terinfeksi.”
“Telepon petugas kesehatan.”
“Ia tak mau.”
“Di mana ia terkena?”
“Entahlah,” kataku.
Tiba-tiba Tuan Rez mengeluarkan perpaduan suara antara tertawa dan tercekik. “Hei, kalian. Berhati-hatilah dengan sayuran hijau yang ditanam orang-orang desa!” Ia meracau. Buliran keringat membasahi dahinya.
5
Kami melangkah mundur menjauhi ruangannya.
“Itu racun yang sangat enak. Sungguh lebih enak dari apa pun. Aku kini percaya dengan omongan nenekku sebelum mati! Sayuran hijau lebih enak ketimbang sayuran tiruan dari pabrik di dalam kapsul-kapsul menjijikkan itu!!”
Lelaki di sebelahku telah menarikku dengan cepat. “Kita harus pergi. Ia ingin kita pergi, kan?”
Di lorong keluar menuju roof top, para pekerja telah memadat dengan cepat. Mereka saling merangsek, menyikut, dan mendorong untuk bisa keluar lebih dulu. Suara mereka berdengung seperti deru baling-baling taksi udara.
Lelaki itu tiba-tiba menatapku dengan wajah pucat.
“Apa?” tanyaku, tak paham.
“Tabung udaramu menipis!!” teriaknya panik.
Aku terkejut. Astaga, bukankah seharusnya tabung udara kepalaku masih cukup hingga kembali ke rumah?
Tanpa menghiraukan apa pun lagi, laki-laki itu menarikku menerobos kerumunan. Ia berteriak-teriak gusar, meminta jalan. Tapi itu sulit dilakukan. Berimpitan dalam kerumunan yang menyesakkan ini membuat konsumsi udaraku benar-benar boros. Samar-samar aku mendengar sinyal hitungan peringatan dari bagian belakang tabung. Count down. Aku mulai cemas, tetapi sekujur tubuhku melemas.
“Balik! Ayo balik ke ruangan. Kalaupun harus mati, matilah dengan elegan karena telah berjuang di jalur yang benar!” teriaknya sambil menarik tanganku.
Kami tiba di ruangan dan dia mulai menggeledah seisinya.
“Di mana?”
“Apa?”
“Inhaler-mu.”
“Inhaler?”
“Aku menemukannya!”
6
Dia tak menunggu jawabanku, melainkan cepat membuka tabung udara dan menyodorkan inhaler kepadaku. Aku melekatkan pipa kecil ke hidungku dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, sampai tandas.
“Oke. Itu sudah cukup untuk sampai di rumah dan beristirahat satu dua jam. Ayo!” Ia menarik tanganku, tetapi cepat kutahan. Pemandangan sejauh tiga kubikel di depanku sungguh mencengangkan.
“Ada apa?”
Aku menunjuk ke depan dengan mulut ternganga. Lelaki itu juga bereaksi sama denganku. Kami seolah membeku di hadapan seorang lelaki yang berwajah secerah matahari pukul sebelas.
Iya, jendela kaca di ruangan itu memperkenankan matahari pukul 11 yang cerlang bertandang dan ikut menikmati kudapan sayuran hijau menggiurkan dalam pinggan-pinggan di atas meja kerja Tuan Rez. ***
.
.
R Yulia, lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara, pada 22 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat antara lain di berbagai media massa dan buku-buku antologi. Cerpennya kali ini ialah pemenang II kategori umum dan mahasiswa Sayembara Cerpen Media Indonesia 2021.
.
.