MINGGON JATINAN; KEMBANG LANGIT; JULAIHA, ALUN-ALUN KOTA

MINGGON JATINAN

.

Dengan koin tanah liat, kami saling bertukar pikat

Di bawah pohon jati, orang-orang khidmat memburu rasa dan aroma

Terisap ke dalam episode masa lalu mereka

Perempuan berkebaya menata tempayan makanan

Menyulih plastik bungkusan dengan lembar dedaunan

Satu koin kereweng setara dengan dua ribu rupiah saja

Tinggal tentukan berapa dan mana yang kamu suka

Serabi kalibeluk, wajik klethek, jenang, atau lumpia siram kacang?

.

Di Minggon Jatinan, kau bisa menepi dari pantura

Dan menghampiri gugusan pohon jati yang terimpit ingar-bingar kota

Temukan kepingan sukacita

Serupa masa yang telah purna

.

Batang, 7 Mei 2021

.

KEMBANG LANGIT

.

Tetapi langit, masih memagut temaram

Pohon-pohon pinus menabirkan

Bahwa cerita-cerita baru akan terpahat

Pada selembar buku harian yang tergamit dalam ingat

.

Di sini, secangkir kopi sengaja kupesan, guna menahan

terjaganya sepasang mata

Menyaksikan lampu-lampu gantung meliuk dimainkan angin

Menasbihkan selekas aroma dingin

Kenangan yang telah dihanyutkan

alur air di kelok jalan tatkala hujan

akan terbawa hingga nanti sepulang perjalanan ini

menuju kota, menuju rumah kita

sembari menganggit

sebait puisi ihwal kembang langit

.

Batang, 4 April 2021

.

Kurnia Hidayati, lahir di Batang, Jawa Tengah. Buku puisinya “Senandika Pemantik Api” terbit pada 2015. Saat ini bekerja di SMPN 6 Batang.

.

JULAIHA, ALUN-ALUN KOTA

.

Sayangnya, beringin di jantung alun-alun usai tumbang saat kau datang. Tinggal sisa jalaran akar merupa anak kecil yang siap menjelma dewasa. Terpenjara dalam pagar. Hingga luput kuceritakan padamu purba hidupku dalam kenangan di alun-alun kota tatkala malam hampir tiba

.

Di sana aku acap kali bergelantungan meneriakkan kemenangan

Yang bebas serupa lepas dari genggaman

Sehabis asar kau tiba, dari Medan. Sahabat dunia maya yang hanya berjabat melalui kata.

Di alun-alun, kita merayakan jumpa sebelum azan Magrib bersuara

Julaiha, memang hanya Tuhan yang bisa menautkan hati.

Kendati kamu berada di pulau seberang, nyatanya di sini kau akan menjadi sepasang.

Kutandai pertemuan yang telah ditakdirkan.

Di alun-alun, Julaiha, meski beringin tinggal akar.

Ia akan tumbuh dan menunggumu kembali dengan sabar

.

Batang, 7 Mei 2021

.

Sebuah sajak karya Julaiha S.

Arsip Cerpen di Indonesia