KETIKA pandemi virus korona bermutasi menjadi varian Delta, penulis muda Madiun menerbitkan kumpulan cerpen absurd bertajuk Heliofilia.
Penerbitan buku pertama yang terbilang berani mengingat kondisi masyarakat sedang berjibaku untuk memenuhi tiga kebutuhan pokok yaitu sandang, pangan, papan, ditambah dengan pembatasan kegiatan masyarakat. Bedah buku, temu penulis, temu pembaca, hingga membubuhkan tanda tangan di halaman depan buku, tentu sangat sulit dilakukan. Menerbitkan buku di masa pandemi memang awalnya terdengar aneh. Tapi, setelah ditelisik, bisa jadi ini merupakan kesengajaan.
Sastrawan legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, dalam novelnya berudul Bumi Manusia pernah mengatakan bahwa manusia harus adil sejak dalam pikiran. Nasib Heliofilia kurang lebih sama seperti yang dikatakan oleh Pram, absurd sejak dalam peluncuran. Absurditas bukan hanya menjadi tema utama dalam cerpen-cerpen yang terdapat dalam buku Heliofilia. Absurditas telah mengakar, menubuh, bahkan menganak susu dalam unsur intrinsik hingga ekstrinsik kumcer itu sendiri. Ini seperti dua unsur utama sastra yang dicetuskan oleh Rene Wellek dan Austin Warren dalam kitabnya berjudul Teori Sastra, yaitu bahwa dalam sastra terdapat unsur intrinsik dan ekstrinsik. Secara intrinsik, absurditas tecermin dalam satu demi satu cerpen yang disajikan dalam Heliofilia.
Konsep absurditas secara mudah dianalogikan oleh filsuf Gabriel Possenti Sindhunata. Menurutnya, absurditas itu seperti seorang lelaki yang berusia sekitar 50 hingga 60 tahun tapi terjebak dalam suasana lagu Tak Ingin Sendiri karya Dian Piesesha. Dalam lagu itu terdapat lirik, “Aku masih seperti yang dulu”. Lirik tersebut tentu sangat absurd, mengingat pada realitasnya dari tahun ke tahun manusia pasti mengalami perubahan. Namun, begitulah tawaran absurditas. Tawaran yang sejatinya sama dengan realitas kosmik yang tampak dari bumi.
Dalam tataran kosmos, manusia tak sekadar melihat pagi dan petang. Tapi, ada juga kondisi menjelang pagi atau subuh dan menjelang malam atau magrib. Baik subuh maupun magrib, itulah absurditas. Tidak bisa disebut terang, juga tak bisa dikategorikan gelap seutuhnya. Realitas inilah yang agaknya sedikit menjadi celah dalam Heliofilia. Bagi Hendy, absurditas berarti semuanya gelap, semuanya suram, padahal tidak.
Ada juga subuh yang membawa nuansa dingin nan romantis, atau magrib yang membawa kehangatan berkumpul bersama keluarga. Ini tentu dapat menjadi koreksi untuk karya kedepannya. Meskipun demikian, kealpaan ini dapat ditutupi dengan teknik judul yang sangat absurd.
Sejak cerpen pertama hingga terakhir, tak disebutkan kata Heliofilia yang justru menjadi judul utama buku Hendy. Secara ekstrinsik, absurditas erat kaitannya dengan sastra yang bermunculan dikala wabah. Pada era pra-aksara, beragam sastra lisan muncul dikala pandemi. Mulai dari Thanatos dalam legenda Yunani, Lampor dalam legenda Nusantara, hingga Dongkrek dalam legenda Karesidenan Madiun.
Pada era aksara, absurditas indentik dengan abstraksi. Menurut sastrawan Royyan Julian, abstraksi adalah perangkat ilmu pengetahuan sekaligus gaya pemikiran modernitas. Karya-karya absurd yang lahir saat pandemi sungguh sangat melegenda, bahkan masih nikmat dinikmati hingga hari ini. Pada zaman pramodern ada Oedipus Rex karya Sophoceles. Kemudian di era modern, ada Menunggu Godot karya Samuel Beckett dan juga Sampar (La Peste) karya Albert Camus.
Di Indonesia ada Ronggeng Dukuh Paruk yang berkelindan dengan wabah, dan masih banyak lagi karya lain yang lahir ketika pandemi. Absurd memang, tapi begitulah sastra. Di era postmodern ini, Heliofilia sengaja dilemparkan pada penikmat sastra di momentum yang absurd.
Dijualnya pun di tempat-tempat tertentu dan bukan di toko buku konvensional. Di warung kopi yang dibatasi jam kunjungnya, hingga di lapakan buku indie yang perlu mengernyitkan dahi ketika mengetikkan judulnya di dunia maya.
Jika boleh merujuk Dea Anugerah, mungkin sasaran Heliofilia adalah penikmat sastra yang cenderung insuler. Namun, jika dianalisis secara ekstrinsik, bisa jadi Heliofilia malah membuat pembaca yang berada di zona nyaman untuk keluar lalu dibaptis menjadi penikmat sastra yang insuler. Semuanya masih absurd dan hanya dapat terjawab melalui Heliofilia. ***