Penggali Kubur

TAK ada seorangpun menyangka bahwa Marto telah melakukan perbuatan biadab seperti itu. Binatang pun tak tak mungkin melakukannya. Perbuatan menjijikkan seperti itu sungguh tidak mencerminkan kepribadian seorang manusia, bahkan iblis pun mungkin tidak akan melakukan hal seperti itu. Setelah dinyatakan tersangka, Marto mendekap di bui untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Seluruh penjuru kampung geger. Aku dan beberapa tetangga menyaksikan Marto dibekuk petugas kepolisian untuk diadili. Di depan rumahnya sudah ada puluhan orang, termasuk petugas. Suara sirene terdengar melengking. Tidak ada anak-anak datang. Semua orang tuanya melarang mereka melihat kejadian itu. Semua pintu tertutup. Atas kejadian itu Kampung Waju muram, seperti diselimuti awan gelap dan mendung tak berkesudahahan.

Marto menundukkan kepala saat dituntun petugas kepolisian, lalu menaiki mobil polisi. Ia mengenakan kaus oblong lusuh. Uban di rambut sudah mulai tampak merata setelah menginjak usia setengah abad. Ia tinggal sendiri setelah bercerai dengan istrinya. Alasan perceraiannya karena ia mandul.

Setelah bercerai dengannya, istrinya menikah dengan duda tua, tuan tanah di kampung seberang. Mereka dikaruniai dua orang anak. Marto berprofesi sebagai penggali kubur di kampungnya. Rumahnya berhadapan-hadapan dengan rumahku, hanya belasan meter dari rumahnya dibelah oleh jalan berpaving.

Dia memang sahabatku dari kecil, tetapi setelah dia melakukan perbuatan memalukan, aku malu untuk bilang dia memang sahabatku. Setahuku, dia memang baik pada semua orang dan aku tidak menyangka bahwa dia melakukan perbuatan hina seperti itu. Alasan mengapa dia mau menjadi penggali kubur, karena tidak ada pekerjaan lain.

Dia bilang kepadaku, siapa lagi bisa menolong para jenazah untuk menggalikan kubur kecuali penggali kubur. “Pekerjaan itu bukan pekerjaan buruk, melainkan pekerjaan mulia,” ucapnya.

Tetapi jangan kau salah sangka bahwa Marto adalah orang yang baik-baik saja. Kau belum tahu sejatinya Marto. Maka dengarkanlah ceritaku baik-baik.

Sekilas dia adalah orang normal dan baik, serta memiliki pengakuan di masyarakat. Namun dibalik itu, sebenarnya Marto sosok misterius dan menjaga jarak dengan masyarakat. Dia lebih suka menyendiri dan membiarkan dirinya dikoyak-koyak sepi. Juga bisa akrab dengan malam.

Suatu hari, dia kuajak ke warung kopi dekat balai desa. Kami mengobrol seperti biasa. Orang-orang pun tidak menyangka jika dia adalah manusia biadab di muka bumi ini. Dari balik wajahnya yang lugu, pendiam dan jujur, dia menyimpan borok amat menjijikkan.

Saat kuajak ke warung kopi, dia tak banyak bicara, hanya berbicara beberapa kalimat. Lebih banyak mendengar dan mengamati setiap orang yang ada di sana.

Suli mengantarkan pesanan pengunjung warung yang lain. Sesekali aku mengobrol dengan orang-orang Desa Waju dengan lepas. Gelak tawa mereka pun kadang-kadang pecah, seolah-olah tidak ada beban dalam hidup. Pendapatan mereka diperoleh dari ladang tembakau dan porang. Selain itu masih banyak hasil tanaman yang lain.

Suli menghampiri kami, membawa dua cangkir kopi dia letakkan di atas nampan. Rambutnya tergerai indah, hitam legam, putih bersih. Dadanya busung, menyunggingkan senyum kepada kami. Marto sampai tak berkedip beberapa detik, terpukau oleh paras Suli begitu menggoda. Setelah itu, Suli kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan pengunjung yang lain.

Warung kopi ini tak sampai sepi. Pengunjung silih berganti datang. Kami juga mendapati suami mantan istri Marto. Baru-baru ini Marto mendapatkan pekerjaan barunya sebagai penggali. Pekerjaan apa pun dia lakukan asal bisa buat makan penting tidak berisiko.

“Apa sebaiknya kau menikah lagi?” Tanyaku.

“Bagiku, sudah cukup. Orang sepertiku pantas untuk sendiri,” jawabnya.

“Harapan untuk mendapatkan kebahagiaan masih terbuka, asal kau mau.”

“Tidak untuk menikah lagi,” sahutnya.

“Apa yang membuatmu tidak mau menikah lagi?”

“Ada dua hal. Pertama soal ekonomi— siapa perempuan bersedia bersuami penggali kubur, yang setiap harinya hanya mengharapkan kematian orang lain? Kedua, aku tidak bisa punya anak. Perempuan mana mau sama aku? Lagi pula, menurutku, memang beginilah yang baik, hidup sendiri.”

Dia menarik napas panjang sambil menyulut rokok kusodorkan kepadanya. Hidup dan mulutnya mengeluarkan kepulan asap. “Kalau itu membuatmu lebih baik, aku tidak menyuruhmu untuk menikah. Lagi pula setiap orang berhak memilih jalan hidupnya masing-masing, bukan begitu?” jawabku.

Arsip Cerpen di Indonesia