Kunjungan Albert ke Cikomara

Cerpen Muhamad Irfan (Medan Pos, 06 September 2020)

Kunjungan Albert ke Cikomara ilustrasi Istimewa
                    Kunjungan Albert ke Cikomara ilustrasi Istimewa

Perjalanan hidup terus ia curi dari waktu. Tidak tahu lagi berapa banyak kota yang ia singgahi. Hingga suatu hari ia ingin bepergian ke suatu daerah pelosok yang belum begitu terjamah oleh orang-orang, bahkan yang suka berpetualang sekalipun.

Cikomara ialah daerah yang hendak ia kunjungi. Ia mengetahui kampung tersebut dari berita yang ia baca tentang banjir bandang yang melanda kampung itu. Ia tak mengenali orang-orang yang tinggal di kampung pelosok itu. Namun Albert bersikeras untuk mengunjungi Cikomara. Sebelum keberangkatannya, ia mencari tahu hal-hal mengenai kampung itu dan ternyata suhu di sana minus lima. Ketertarikannya ke sana karena ia ingin berkunjung ke kampung pedalaman, sebab ia telah bosan dengan suasana perkotaan yang terus menerus bermacetan di lalu lintas, udara yang tak segar lagi dihirupinya.

Ia berangkat dengan mini bus dengan beberapa orang penumpang yang tak sama tujuannya, namun ada seorang pemuda yang duduk di pojok kursi penumpang sendirian. Beberapa orang turun di pemberhentian yang masih jauh jaraknya dari Cikomara. Dalam mini bus hanya tinggal ia dan seorang pemuda yang duduk di kursi pojok tadi beserta sopir dengan kernetnya. Pemuda itu pun pindah ke kursi depan yang bersebelahan dengan Albert.

“Hai, kamu hendak ke mana, Mas?” Tanya seorang pemuda itu kepada Al.

“Saya hendak ke Cikomara, kalau mas hendak ke mana?” Jawab Al.

“Sama, saya juga ke Cikomara, lebih tepatnya pulang kampung.” Jawab pemuda itu.

Mereka berkenalan dan saling bertukar cerita. Albert pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya terhadap Riko (pemuda) yang bertempat tinggal di Cikomara. Al mempertanyakan banyak hal tentang Cikomara seperti wartawan yang sedang meliput berita. Perkenalannya pun berjalan dengan baik, sehingga Riko menawarinya untuk tinggal di rumahnya. Al langsung menerima tawaran itu, karena ia juga tidak tahu mau menginap di mana nantinya. Setibanya di Cikomara, ia berjalan kaki ke rumah Riko. Al sangat memerhatikan sekeliling kampung Cikomara, sebuah ketenangan dan udara segar dengan suhu minus lima menyambutnya. Di rumah, Riko mengenalkan Al ke orang tuanya dan menjelaskan tujuan Al ke Cikomara.

Setelah meletakkan barang-barang dan bercerita-cerita dengan keluarga Riko, Al meminta izin keluar rumah, melihat-lihat suasana di luar kampung. Sementara Riko meminta Al untuk duluan keluar, karena ia kebelet buang air besar. Dengan rasa penasaran yang membenak di kepala Al, ia pergi keluar sendirian. Ia mencari warung untuk membeli rokok. Lumayan jauh berjalan, ia baru mendapati warung. Warung itu berupa pondok kayu yang sangat kecil. Rokok yang ingin dibeli Al pun tak dijual di sana. Emak-emak penjaga warung itu menjelaskan bahwa warungnyalah satu-satunya yang menjual rokok di Cikomara. Al pun membeli rokok kretek di sana. Kemudian ia duduk di loneng menunggu Riko sembari menikmati kretek yang terasa asing di bibirnya.

Hari menunjukkan pukul 04.00 sore. Langit tiba-tiba mendung. Rintik demi rintik bertanggalan dari tampuk hujan. Seketika lebat. Al pergi berteduh ke sebuah pondok yang terletak di seberang loneng. Dingin semakin menusuk ke tulang. Meskipun ia sudah mengenakan jaket. Ia terus menikmati kretek sembari menunggu hujan reda dan menunggu Riko. Tak berapa lama setelah itu hujan berhenti secara tiba-tiba. Seperti tak ada hitungan mundur secara berurutan. Hanya sekaligus saja. Al menatap ke langit, mendung mulai bersibakkan. Ia kembali ke loneng. Sebelum duduk, ia melap bagian loneng yang akan didudukinya. Tiba-tiba sepasang suami istri singgah di loneng itu.

“Kamu siapa dan dari mana? Kelihatannya kamu baru di sini.” Tanya bapak itu.

“Saya Albert dari Jakarta, Pak. Saya berkunjung ke sini ingin menikmati kealamian alam di sini pak.” Jelas Al dengan sopan.

Lalu datang juga seorang bapak-bapak dan menanyakan hal yang sama. Bapak yang bersama istrinya tadi menjelaskan dengan bahasa Cikomara ke bapak yang baru datang. Tiba-tiba Al disuruh pulang oleh kedua bapak itu. Tanpa alasan apapun yang dikatakan olehnya. Tak berapa lama bapak itu menyuruh Al pulang, datanglah Riko menjelaskan kepada kedua bapak itu. Kedua bapak itu seperti berembuk dengan Riko. Al menjadi sedikit sinis dan mengintropeksi dirinya terhadap adakah kesalahan yang ia lakukan sebagai tamu yang berkunjung ke kampung orang. Riko memanggil Al dan mengajaknya duduk yang tak berapa jauh dari loneng itu.

“Ada apa tadi, Ko? Apa saya melakukan kesalahan sebagai orang baru di kampung ini?” Tanya Al dengan rasa penasarannya.

“Begini Al, di Cikomara ini jika matahari sudah mulai terbenam, orang-orang pulang ke rumahnya masing-masing dengan alasan pintu ghaib terbuka di waktu itu. Jadi makhluk ghaib akan terlihat. Kamu juga baru di sini. Sebenarnya maksud bapak-bapak itu baik. Kalau kamu tidak percaya lihatlah ke loneng tadi, semakin lama akan semakin banyak orang yang berdatangan ke sana?” Jelas Riko berbisik-bisik dengan mata yang berlarian ke sana ke mari.

“Hah, pintu ghaib? Ngapain orang-orang itu pada ngumpul di sana, Ko?” Tanya AL terkejut mendengar perkataan Riko.

“Iya, pintu alam ghaib. Setiap hari orang-orang itu akan berkumpul di sana, saat matahari mulai tenggelam sampai sehabis maghrib dan yang ditunggunya benar-benar lengkap. Lalu mereka secara bersamaan akan berjalan melewati jalan setapak itu. Karena ghaib tadi, makanya mereka pulang ke rumah masing-masing secara bersamaan. Kalau sendiri-sendiri sering terjadi pembulian dari makhluk ghaib itu terhadap orang-orang yang melintasi jalan itu. Kalau kamu tidak percaya juga, maka kita akan duduk sedikit lebih lama di sini, dan kamu akan melihat para remaja yang berumah di sejajaran jalan ini mengejar-ngejar kuntilanak.” Jelas Riko semakin meyakinkan Al.

Al semakin ngeri mendengar penjelasan dari Riko.

“Aih, saya salah berkunjung.” Kata Al dalam hatinya dengan raut wajah ketakutan.

Namun di balik ketakutannya itu juga tersemat rasa penasaran antara benar atau tidaknya kata Riko itu yang semakin melunjak di kepalanya. Di satu sisi ia ingin sekali membuktikannya, sedangkan di sisi lain ia juga merasa ngeri mendengar penjelasan dari Riko.

Gelap semakin menguncup. Para remaja berkumpul di tepi jalan. Al memerhatikan betul setiap gerak-gerik yang dilakukan para remaja itu. Tak berapa lama setelah itu, kengerian Al semakin menjadi-jadi dan Al mengajak Riko untuk segera pulang, karena ia sadar bahwa ia baru saja datang di kampung orang dan tak tahu apa-apa tentang kampung itu. Ketika ia dan Riko berjalan pulang, mereka mendengar suara para remaja bersorak sambil berkejaran. Al tersontak dan terdiam dari langkah kakinya. Jantungnya berdegub kencang, seketika ia menoleh ke belakang. Sementara Riko sudah menoleh ke belakang sedari tadi. Al berpikiran bahwa yang dikatakan Riko itu benar, ia melihat kuntilanak yang dikejar-kejar oleh para remaja, seolah mereka sedang bermain dan terlihat begitu akrab. Al terpelongok melihat itu, seakan membatu dan tak bisa bergerak sedikitpun.

“Apa ini mimpi?” Kata Al yang tampak begitu pucat dengan tubuh yang membatu.

“Tidak Al, kan tadi sudah saya jelaskan. Kuntilanak sudah menjadi hal yang umum di sini, Al. Para remaja itu hanya berani mengejar-ngejar kuntilanak saja. Dengan yang lain daripada itu mereka pada takut, yang biasanya akan terlihat di pertengahan malam—sangat ganas.” Kata Riko sembari melanjutkan langkahnya.

Berhari-hari telah dilalui Albert di Cikomara, hingga ia dikenal oleh warga. Kejadian-kejadian ghaib pun sudah bisa dimakluminya sedikit demi sedikit, tapi ia masih ada rasa takut. Suatu siang saat ia duduk di loneng kembali. Ia meminta Riko untuk mengajaknya berkeliling dengan motor. Ia ingin ke puncak jalan Cikomara, sembari menikmati pemandangan dari puncak bukit dan mengimprovisasi rasa takutnya. Riko pun mengajaknya pulang untuk mengambil motor.

Kemudian Al mengendarai motor ke puncak Cikomara, sedangkan Riko menjadi penumpang di belakangnya. Al sudah menyiapkan untuk kehangatan tubuhnya dengan mengenakan beberapa lapis jaket. Al menebak setiap pukul 04.00 sore hujan pasti turun, itu sudah berhari-hari ia perhatikan. Ketika ia bandingkan dengan daerah dingin lainnya sangat berbeda. Di daerah dingin rata-rata hujan tak menentu turunnya kapan, sedangkan di Cikomara setiap pukul 04.00 sore sudah pasti hujan.

Al mengendarai motor dengan sangat pelan. Ia menikmati setiap pemandangan. Sesekali ia mengabadikan pemandangan itu dengan memotretnya menggunakan kamera smartphone miliknya. Dan juga selfi bersama Riko, yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri. Al melihat ke arah puncak bukit itu. Ia melihat ada sebuah pondok di sana. Ia berhenti di pinggir jalan dan menatap pondok itu begitu lama. Pondok yang seperti pondok-pondok di jaman kerajaan.

Ia meminta Riko untuk naik ke sana. Untuk naik ke sana harus berjalan kali, tidak ada jalan motor ke sana, namun Riko melarang Al untuk pergi ke sana. Riko tidak memberitahukan alasannya kepada Al. Sebab Al sudah pasti akan mengerti jika ada larangan darinya. Al tetap bersikeras ingin ke pondok itu. Bahkan ia nekat untuk pergi sendiri. Riko tidak membiarkan juga Al pergi ke sana. Al terus saja melawan perkataan Riko. Sampai ia bersitegang urat di sana.

Al menghela napas dan membakar rokoknya. Tak berapa lama setelah itu Al meminta maaf atas sikap egonya ke Riko. Riko tak menyoalkan hal itu. Ia bersyukur karena Al masih mau mendengarkan kata-katanya. Jika Al tak mau mendengarkan kata-kata Riko dan misalkan terjadi apa-apa, sudah pasti Riko yang bertanggung jawab atas kejadian itu. Mereka melanjutkan perjalanannya. Awan bermendungan, Al melihat jam tangannya. Memang benar menunjukkan pukul 04.00 sore. Mereka segera mencari pohon-pohon yang bisa berteduh di pinggir jalan. Tepat di bawah pohon besar yang sangat tua itu ia berteduh. Al membakar rokoknya. Suhu dingin membuatnya ingin merokok terus menerus, sedangkan Riko telah lama berhenti merokok.

Beberapa menit kemudian hujan reda, persis dengan tebakan Al dalam hatinya. mereka melanjutkan perjalanannya kembali dan sebelum tenggelamnya matahari, mereka harus sampai di rumah. Semakin jauh Al mengendarai motor. Riko menyuruh Al untuk putar arah, tetapi Al masih saja memilin gasnya. Sontak Riko memegangi stang motor dari belakang dan mereka hampir jatuh. Dengan suara keras tepat di telinga kiri Al, Riko membentak Al untuk berhenti. Al menghentikan motornya. Kemudian Al memutar balik laju motornya ke arah pulang dengan wajah masam.

“Kamu tahu, jika kamu meneruskan jalan yang tadi, maka kamu tak tahu akan tiba di mana, itu ialah batas Cikomara, setelah itu tak ada perkampungan lagi, yang ada hanya jalan buntu. Di jalan buntu itu, jika diteruskan kata orang-orang tua di Cikomara akan tembus ke suatu daerah, mereka menyebut dengan pintu ghaib.” Kata Riko dengan nada keras membentak Al dan ekspresi cemas.

Kata Albert menceritakan kepada kami setelah melihatnya dalam keadaan yang sangat bingung dan ketakutan. Kami membawanya ke sebuah kafe, kami menjadi ngeri mendengar cerita itu. Ia juga meninggalkan sepucuk surat permintaan maaf beserta beberapa lembar uang di ruang tamu rumah Riko sebelum menembus jalan buntu di ujung kampung Cikomara.

 

Pariaman, 2020

(Muhamad Irfan lahir di Pariaman, 26 September. Sedang menyelesaikan studi di jurusan Sastra Indonesia Unand. Aktif menulis cerpen, puisi, dan esai. Tulisannya pernah dimuat di beberapa media cetak dan daring. Bergiat di Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM), Labor Penulisan Kreatif (LPK), dan Lab. Pauh9. Dapat disapa di email: irfanjelah@gmail.com, Hp/Wa: 085274088086, dan instagram @muhamad_irfan2

Arsip Cerpen di Indonesia