Category: Putu Wijaya

Putu Wijaya

NAMA lengkapnya I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Lahir 11 April 1944 di Puri Anom, Tabanan, Bali. Putra ketiga—(1. I Gusti Ngurah Oka Winartha, 2. Ni Sagung Rai Wiratni)—dari almarhum I Gusti Ngurah Raka (1970) dan almarhumah Mekel Erwati (1992).

Mendapat pendidikan di Sekolah Rakyat I Tabanan, SMP Negeri Tabanan, SMA Negeri Singaraja, Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (tamat Jurusan Perdata pada 1969), Asdrafi (3 tahun), dan ASRI (1 tahun).

Hijrah ke Jakarta tahun 1969. Bersama istrinya, Dewi Pramunawaty, kini tinggal di kompleks perumahan Sunter Mas, Sunter.

Putu menulis sejak SMP. Tulisan pertamanya sebuah cerita pendek berjudul “Etsa” dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Pertama kali main drama ketika di SMA, memainkan naskah “Badak” (Anton Chekov) dengan sutradara Kirjomulyo.

Selanjutnya, menulis, memainkan sendiri, dan menyutradarai drama dengan kelompok yang didirikannya sendiri di Yogya.

Ikut Bengkel Teater 1967-1969. Kemudian bergabung dengan Teater Kecil di Jakarta. Sempat main satu kali dalam pementasan Teater Populer.

Mendirikan Teater Mandiri pada tahun 1971 dengan konsep “Bertolak Dari yang Ada”, menyelenggarakan pertunjukan setiap tahun di TIM dan kemudian GKJ, dengan target untuk menciptakan “teror mental”.

Putu Wijaya pernah bekerja sebagai redaktur di majalah Ekspres, Tempo (1971-1979) dan redaktur pelaksana majalah Zaman (1979-1985).

Pernah hidup selama 7 bulan dalam masyarakat komunal Ittoen di Kyoto, yang memberikannya semprotan “kerja sebagai ibadah”.

Mengikuti International Writing Program selama 8 bulan di Iowa, Amerika Serikat; bermain dalam Festival Teater Nancy, Prancis; dan kembali ke Amerika pada 1985-1988 sebagai dosen/sutradara tamu atas undangan Fulbright.

Putu mementaskan naskah Gerr (GEEZ) dan Aum (ROAR) di Madison, Connecticut dan di LaMama, New York City. Kemudian pada 1991, sebagai bagian dari KIAS, membawa Teater Mandiri dengan pertunjukan YEL keliling Amerika.

Pada tahun 1991-1992, mendapat professional fellowship dari The Japan Foundation, untuk menulis novel, di Kyoto, sekaligus sebagai tamu di CSEAS, Universitas Kyoto.

Mendirikan Putu Wijaya Mandiri Production, untuk pembuatan sinetron di televisi. Produksi pertamanya “Dukun Palsu” (13 episode) tayang di SCTV.

Sebagai penulis skenario dan sutradara, Putu sudah menyutradai serial sinetron: PAS (52 episode), None (39 episode), Warteg (20 episode) dan Jari-jari Cinta. Telah menyutradarai 3 buah film untuk layar putih yaitu Cas-Cis-Cus, Zig-Zag, dan Plong.

Penghargaan yang pernah diterimanya antara lain SEA Write Award di Bangkok, (1980), 3 piala Citra di Festival Film Indonesia untuk skenario film Perawan Desa (1980), Kembang Kertas, dan Ramadhan dan Ramona (1993), serta Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1991).

Sejumlah karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris, Rusia, Prancis, Jerman, Jepang, Arab dan Thai.

Bibliografi

Drama

  1. Dalam Cahaya Bulan
  2. Bila Malam Bertambah Malam
  3. Invalid
  4. Tak Sampai Tiga Bulan
  5. Orang-Orang Malam
  6. Lautan Bernyanyi
  7. Aduh
  8. Anu
  9. Edan
  10. Hum-Pim-Pah
  11. Dag-Dig-Dug
  12. Dor
  13. Blong
  14. Ayo
  15. Awas
  16. Los
  17. Gerr
  18. Aum
  19. Zat
  20. Tai
  21. Front
  22. Aib
  23. Wah
  24. Hah
  25. Bah
  26. Jpret
  27. Aeng
  28. Aut

Monolog

  1. Dar-Der-Dor (13 buah monolog)

Novel

  1. Bila Malam Bertambah Malam
  2. Telegram
  3. Pabrik
  4. Stasiun
  5. Keok
  6. Teror
  7. Tiba-tiba Malam
  8. Sah
  9. Ms
  10. Tak Cukup Sedih
  11. Ratu
  12. Mas
  13. Lho
  14. Nyali
  15. Pol
  16. Perang
  17. Merdeka
  18. Cas-Cis-Cus
  19. Aus
  20. Kroco
  21. Byarpet
  22. Nol
  23. DangDut
  24. Kaki Lima

Esai

  1. Tradisi Baru
  2. Teror Mental
  3. Bertolak dari yang Ada

Kumpulan cerpen

Lebih dari 500 cerpen, antara lain terkumpul dalam:

  1. Es
  2. Born
  3. Gres
  4. Protes
  5. Darah
  6. Klop
  7. Bor
  8. Plot
  9. Yel

 

Maling

 redaksicerpen  Sunday, 03 June 2018  0 Comments on Maling

Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 03 Juni 2018) 1 MALING yang brutal itu masuk dari atap rumah. Lalu seperti Tarzan…

Boko

 redaksicerpen  Sunday, 22 April 2018  0 Comments on Boko

Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 22 April 2018) 1. BOKO, mantan bromocorah diinsyafkan oleh rumah pemasyarakatan, ketika keluar dari penjara, ia…

Kalah

 redaksicerpen  Sunday, 25 February 2018  0 Comments on Kalah

Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 25 Februari 2018) PAKDE ELVIS yang masih kerabat jauh Bu Pao berkunjung. Ia curhat mengatakan…

Zera

 redaksicerpen  Sunday, 25 February 2018  0 Comments on Zera

Cerpen Putu Wijaya (Suara Merdeka, 25 Februari 2018) BU RAKA mengadu lagi pada Bu RT. Suaminya diam-diam punya wanita simpanan.

Nio

 redaksicerpen  Sunday, 24 September 2017  0 Comments on Nio

Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 24 September 2017) NAMAKU Nio. Tapi aku lebih suka dipanggil Nia. Bukan karena mataku tidak sipit….

Sejarah

 redaksicerpen  Sunday, 25 September 2016  0 Comments on Sejarah

Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 25 September 2016) 1. CERITAKAN padaku apa yang terjadi sebelum aku lahir. Aku ingin berenang, tenggelam…

Petisi

 redaksicerpen  Sunday, 17 July 2016  0 Comments on Petisi

Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 17 Juli 2016) SEORANG lelaki setengah baya mendesak bertemu Amat. “Saya mau mengadukan nasib saya, Pak…

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua

 redaksicerpen  Sunday, 26 June 2016  0 Comments on Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua

Cerpen Agus Noor dkk. (Kompas, 26 Juni 2016) TOHARI, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari…

Jenggo

 redaksicerpen  Sunday, 25 October 2015  0 Comments on Jenggo

Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 25 Oktober 2015) PUTRA tunggal Pan Jenggo mau masuk ABRI. Pan Jenggo dengan bangga mengumumkan itu…

Fokus

 redaksicerpen  Sunday, 10 May 2015  1 Comment on Fokus

Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 10 Mei 2015) “KASUS pembegalan yang diungkap tv, seperti mengembalikan kita ke zaman cerita-cerita yang sering…