“Kiai Dikin yang punya pesantren besaaaar itu lho Mas Djiwo… sekeluarga mau berangkat umrah pas malam laitul qadar. Usaha bisnis travel hajinYa sukses. Walaah, siapa sangka dia bisa jadi orang sukses, jadi kiai, santri dan jamaahnya banyak. Lha wong dulu hanya orang biasa, punya sakit kanker… apa itu? Pokoknya kanker di tenggorokan. Terus, Kiai Dikin rajin shalat malam, ndak pernah tinggal. Eeee, habis itu penyakitnya sembuh, usahanya maju, malah sering diminta ngisi ke sana kemari. Mungkin, sampeyan harus kayak Kiai Dikin, Mas Djiwo. Jangan tinggal shalat malam!”
Djiwo hanya diam. Seingatnya, ia berusaha menggenapi tidur dengan witir. Bila terlalu lelah, shalat malam memang hanya sanggup dua rakaat.
Kanthi datang dengan ceramah berbeda lain hari. “Ustazah Romlah tadi huueebaat, Mas! Masih muda! Ilmunya banyak! Dia itu punya usaha rumah makan bebek kremes dekat kampus. Dulu, katanya, hidupnya susah. Terus, Ustazah Romlah ndak pernah tinggal shalat dhuha delapan rakaat. Habis itu, rezekinya kayak air. Ngaliiiiir terus.”
Baca juga: Sarha Panjang – Cerpen Sinta Yudisia (Republika, 12 Oktober 2014)
Kanthi dan Djiwo berusaha shalat dhuha. Sebelum berangkat belanja bahan pecel ke Pasar Soponyono untuk bahan jualan esok hari, Kanthi sempatkan shalat dua rakaat. Djiwo sendiri membuka usaha tambal ban di dekat kantor pemerintah yang memiliki masjid megah. Disempatkannya shalat dua rakaat saat matahari sepenggalah naik.
“Sampeyan kalau shalat dhuha harusnya delapan rakaat, Mas. Aku kalau sempat juga delapan rakaat kok…” Djiwo mengangguk, mengiyakan dalam diam.
Kali lain, Kanthi membawa cerita mengharukan. “Aku sampai nangis dengernya. Mas. Dulu, ada tukang roti yang ndak pernah berhenti beristighfar, katanya, semua permintaannya terwujud kecuali satu hal: bertemu Imam Ahmad bin Hambal. Eee, lha kok, suatu hari ada kejadian misterius yang menyebabkan Imam Ahmad terpaksa harus bermalam di rumahnya. Istighfar yo, Mas? Aku ya gitu kok, sambil motongin kacang panjang, motong timun, methik kemangi, ngulek bumbu, baca istighfar. Sampeyan nek pas nambal ban ya harus sering-sering baca istighfar biar rejekinya ndak mampet!”
Djiwo berusaha melafazkan istighfar bukan hanya saat tersandung, atau saat jemarinya tak sengaja tertusuk peralatan tambal ban. Sembari melangkah ke masjid, mengayuh sepedanya berangkat dan pulang: bukan hanya istighfar. Tasbih, tahmid, takbir., lisannya berusaha terus mengingat Kanjeng Pangeran. Ucapan Kanthi, sudah lebih dahulu dilaksanakan.