Baca juga: Syahid Sang Azazil – Cerpen Izzatul Jannah (Republika, 27 Mei 2012)
Sekali lagi, sesungguhnya, ia sama sekali tak berani merasa cukup beribadah. Karena itu, ketika Kanthi mendesaknya untuk banyak sedekah, ada yang terasa mengganjal. Menghadapi Kanthi yang tangkas bicara, Djiwo sering gelagapan. Itulah sebabnya puluhan tahun mereka menikah, sebagai lelaki lebih memilih diam ketika istri mengomel. Beruntung, Pujo bersedia menyediakan telinga saat dirinya pepat masalah. Djiwo tahu, ujung kisahnya hanya berujung pada nasihat: sabar. Tapi, sungguh lumayan sudah berbagi beban pada orang lain, setidaknya, ada yang membantunya berpikir sekalipun penyelesaiannya pun tetap harus ditanggung sendiri.
***
Matahari bersinar sepuluh kali lebih terang. Langit lebih meninggi, mobil berjalan lambat. Setiap orang tersenyum, daun lebih hijau, udara bersih jernih. Seperti ini rasa kebahagiaan itu. Segala yang tampak terlihat lebih dari biasanya. Djiwo mengayuh sepeda riang. Mulutnya ringan mengucap istighfar. Hari ini ia merasa lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Perbincangan dengan Pujo setidaknya memberikan kekokohan kaki untuk melangkah.
“Kalau rezeki dimaknai uang, ya sedikit, Wo. Kamu masih punya harga diri buat cari uang sendiri, itu rezeki lho. Kita habis nengok pak Setyo kan yang tergolek stroke? Apa ya enak lelaki ndak bisa apa-apa seperti itu…”
Ya. Rezeki itu bukan matematika, bukan seperti bunga bank yang perhitungannya selalu uang dan uang. Masing-masing orang boleh jadi tak punya pemahaman sama tentang rezeki, tetapi bagaimanapun rezeki seperti yang digambarkan Pujo. “…barang gaib. Pintunya ada di arah tak disangka.”
Manusia beranggapan rezekinya dari gaji, ternyata dibuka dari pintu yang lain. Banyak pintu tersedia, tinggal mengupayakan kunci.
Ya. Ya. Djiwo tetap berusaha memenuhi permintaan Kanthi untuk bersedekah. Bagaimanapun, saran Kanthi mungkin ada benarnya. Ia masih ragu untuk bersedekah, tetapi Djiwo tak ingin berhitung-hitung masalah pengembalian. Tuhan bukan pedagang meski berniaga dengan Tuhan adalah perniagaan paling menguntungkan. Hari ini Djivvo mencoba bersedekah lebih banyak. Dan, memang, Tuhan membayar kontan. Bukan bayaran kontan itu yang membuat Djiwo bersukacita. Tapi, makna lain yang ia dapatkan. Usai bersedekah, ketika shalat Ashar, seseorang mendekatinya. Lelaki tinggi besar itu memperkenalkan diri sebagai kepala seksi di salah satu bagian. Ia menitipkan beberapa sepeda untuk diperbaiki, mulai ban hingga pengecatan. Mereka sekeluarga akan lebih sering menggunakan sepeda untuk jarak-jarak pendek demi kesehatan. Djiwo tentu senang. Ditambah lagi, bapak kepala seksi menambahkan instruksi berbeda untuk takmir masjid, sesuatu yang membuat Djiwo ternganga.