Sedekah Minus

Takmir masjid berniat menggelontorkan dana pinjaman sebesar lima ratus ribu rupiah, bisa dicicil hingga dua puluh kali, setelah sebelumnya hanya mengizinkan pinjaman maksimal dua ratus ribu. Malu-malu, Djiwo bertanya pada takmir masjid, apa pasal yang menyebabkan bapak kepala seksi berniat memperbaiki sepeda-sepedanya dan memerintahkan penambahan dana pinjaman untuknya.
“Aku pernah cerita ke beliau kalau sampeyan itu termasuk yang tepat waktu mengembalikan pinjaman, jujur lagi,” terang takmir.
Bukan pujian itu yang menyenangkan hati Djiwo, melainkan justru kehebatan perkataan Pujo. Rezeki. Barang gaib. Pintunya tersebar. Mungkin saja buah komitmennya selama ini yang takut mati membawa utang sehingga bersusah payah menyisihkan uang demi membayar pinjaman, membuat pintu rezeki terbuka. Mungkin juga sedekah itu membuat lebih lancar semuanya. Setidaknya Djiwo lebih yakin bahwa semua amal ibadah memang layak dikerjakan tanpa pilih-pilih demi balasan yang juga lebih terbuka lebar jenisnya.
Baca juga: Dosa Berbau – Cerpen Intan Savitri (Republika, 04 Oktober 2015)
Djiwo memberitakan detail kejadian kepada Kanthi. Kanthi terbelalak. Mulut terbuka. Anehnya, wajahnya tak sumringah. “Yaaa… coba yang Mas Djiwo sedekahkan bukan separuh imbalan. Pasti dapatnya lebih besar dari lima ratus ribu!”
Mulut Djivvo terkatup. Jengkel tentu saja. Tapi, mengingat wajah Pujo, hatinya ayem. Semua pantas disyukuri. Punya rezeki seperti Kanthi, istri yang cerewet tapi selalu mengingatkan ibadah, juga rezeki. Djiwo ingin berkata kalau ia ingin memperlakukan Tuhan bukan seperti pedagang. Kalau betul-betul berdagang dan berniat menginfakkan Kanthi pada Pujo, apa iya dapat ganti istri yang lebih baik lagi?
 

Sinta Yudisia, penulis lahir di Yogyakarta, 18 Februari 1974. Mahasiswi Psikologi Untag Surabaya ini dikenal sebagai penulis dan pegiat FLP. Karya-karyanya berupa artikel, opini, cerpen telah dimuat di berbagai media. Ia juga telah menerbitkan novel, kumpulan cerpen, dan buku anak-anak.

Arsip Cerpen di Indonesia