Sedekah Minus

Beberapa hari terakhir, Kanthi mengulang hal yang sama. Masih seputar ibadah yang membuka pintu-pintu rezeki. Wajar Kanthi uring-uringan, putri pertama mereka dilamar orang. Sesederhana apa pun perhelatan, pasti butuh biaya. Uang hasil tambal ban yang diberikan Djiwo, hasil jualan pecel, tabungan sedikit-sedikit yang disisihkan tidak mencukupi. Meminjam saudara, itu terpaksa. Kalau sudah menagih, tentu harus dibayar dengan uang. Kanthi sudah mengupayakan arisan PKK dapat diminta lebih dahulu, pinjam ke koperasi, tapi belum mencukupi. Meminta Djiwo berbuat lebih, itu yang diminta. “Coba tho Mas Djiwo, usaha lebih!”
Apalagi yang bisa diupayakan Djiwo? Kemampuan tamatan sekolah dasar memberinya kesempatan bekerja mandiri tanpa bekal keterampilan maksimal. Usaha tempe, berdagang kerupuk, dan membuat sambal pecel telah dilalui. Pekerjaan menambal ban ini yang ternyata bertahan cukup lama. Kanthi melihatnya belum berupaya seperti yang diharapkan. Djiwo masih berlapang dada ketika Kanthi menganggapnya kurang cekatan mencari uang. Tapi, ketika pembahasan menyinggung masalah kekurangannya beribadah, entah mengapa hatinya terasa tersengat sakit.
Kurang ibadah? “Sedekah lho, Mas. Itu temen-temenku juga bilang gitu. Sekarang sedang rame orang-orang pada sedekah, ada yang sendiri-sendiri ada yang rombongan. Balasannya bisa berlipat kali! Ibarat tanaman padi, kelipatannya ratusan. Bu Ratih habis sedekah, dapat hadiah gratis umrah. Bu Endang sedekah gajinya, tahu-tahu dikasih hadiah sama majikannya yang habis jual tanah. Malah, suami Bu Wiryo sedekah semua bonus gaji satpamnya, dikasih sepeda motor sama perusahaan. Itulah Mas, kalau sedekah jangan setengah-setengah. Biar rezeki kita lancar. Aku sudah sering sedekah, tinggal mas Djiwo. Gimana?

***

Djiwo tahu, sebagai manusia, mana berani mengatakan telah cukup beribadah? Nabi saja bahkan bengkak kakinya saat shalat malam merasa sangat bersyukur. Setahunya, para sahabat dan ulama pun berlomba beribadah. Umar bin Khathab ra pernah menginfakkan separuh hartanya pada saat Abubakar ra menyerahkan seluruh hartanya. Imam Ahmad bin Hambal semasa hidup shalat tiga ratus rakaat saat sehat dan seratus lima puluh rakaat saat sakit. Ibnu Mubarrak setahun berhaji, setahun berjihad, begitu bergantian sepanjang masa. Djiwo, tentu tak ada apa-apanya.
Baca juga: Titik Hati – Cerpen Sinta Yudisia (Republika, 20 Februari 2011)
Lelaki itu berusaha beribadah sebaik mungkin yang ia bisa. Apalagi, bila usai mendengar khotbah Jumat atau pengajian rutin di kampungnya setiap Kamis malam. Ketika kiai berkata Nabi SAW tak pernah meninggalkan shalat witir, dhuha, dan puasa tengah bulan, Djiwo berupaya melakukan. Sesekali witirnva kedodoran, dhuhanya terburu, atau puasa tengah bulan yang seharusnya tiga hari hanya dapat dilakukannya sehari. Ketika kiai berkata bahwa surah Waqiah dapat menjamin dari kemiskinan, Djiwo berusaha menghafalkan dan membacanya setiap hari meski susah payah ia menghafalkan dengan otak yang beranjak tua. Ketika kiai menyampaikan surah al-Mulk dapat membebaskan dari siksa kubur. Djiwo pun berusaha membaca setiap malam sebelum tidur.

Arsip Cerpen di Indonesia