Aku tersenyum-senyum sendiri. Faktanya, ia memang sedang mengarang sebuah cerita. Semua itu, atau paling tidak hal itu benar bagi seseorang yang berhasil dikelabuinya. Tidak bagiku.
Aku masih tersenyum-senyum melihat malaikat aneh ini berbicara.
“Sudahlah, kita akan pergi ke lapangan berlumpur, minum bir sambil tertawa kencang, bermain bola lalu pulang ke apartemenmu dalam keadaan jorok dengan pakaian penuh noda lumpur,” celotehnya, membuyarkan gerombolan balon-balonan sabun di atas kepalaku.
Aku tergeragap dibuatnya.
“Apartemenmu sedikit berantakan, tidak seperti dalam gambar yang pernah kau kirimkan padaku,” ujarnya. Bicara apa lagi ia?
“Kamu suka membaca?”
Aku mengangguk. “Buku-buku sastra klasik, macam Leo Tolstoy, Jorge Luis Borges dan Gabriel Garcia Marques, ” jawabku kalem menyebut sejumlah nama.
“Menarik!” Ia berdecak. Lalu ia melanjutkan, “Kamu pasti tahu, bahwa cerpen Gabriel Garcia Marquez, atau yang lebih baru Roberto Bolano, itu sudah terbit dalam bentuk buku, saking menariknya, diterbitkan lagi di majalah New Yorker.”
“Oh ya?”
“Tak usah jauh-jauhlah, cerita AS Laksana yang dimuat bersambung di koran, lalu dimuat lagi sebagai cerpen di Koran Tempo. Artinya, karena cerita itu menarik untuk dibaca!”
Aku mengangguk-angguk. Ia pasti banyak membaca, pikirku praktis saja.
Ia tiba-tiba mengendus-endus, cuping hidungnya merekah.
“Hei, kamu memakai Hugo!”
“Dari mana kamu tahu?”
“Ya, ampun…. Kamu memakai parfum bermerek Hugo, parfum itu merupakan percampuran sentuhan modern dan klasik, meyegarkan sekaligus maskulin, hmmm…,” ia mengendus lebih dekat dan dalam di bawah ketiakku. Membuatku kikuk. Meski ia benar-benar malaikat, ia kan perempuan.
“Aromanya diawali dengan harum ice cold mint kemudian bersambung ke freesia dan basil. Dan diakhiri dengan molekul musk cashmeran, woody dan wangi rempah-rempah. Sempurna. Aku suka lelaki berparfum, wangi!” pungkasnya. Ia menyentuh ujung hidungku dengan telunjuknya yang lentik.