“Jadi kamu benar-benar malaikat, ya?”
“Ya, ampun…. Kamu belum percaya?” Matanya melotot menatapku.
“Aku heran saja,” ucapku pelan.
“Aku ke sini untuk mengambil nyawamu, tapi kamu tak akan mati digigit laba-laba yang kuceritakan tadi,” ujarnya tersenyum misterius.
Saat ini, aku besama perempuan bertubuh mungil dengan kaus serupa permen. Ia mengajakku bermain bola di lapangan berlumpur dan minum bir. Aktivitas menjelang ajal yang benar-benar aneh.
Lamat-lamat kulihat dari lengannya yang bertato, terbentuk serumpun bulu-bulu unggas yang terus mengembang menjadi sepasang sayap yang kokoh. Sayap itu lantas mengepak-ngepak membawaku entah kemana….
Sebentar! Ia membawaku ke sebuah kafe.
Setelah Kematian
Pernahkah kamu melihat seorang perempuan muda yang tampak begitu rapuh? Pernahkah kamu melihat seorang perempuan yang tampak begitu kesepian? Perempuan itu, duduk sendirian di satu sudut gelap di sebuah kafe sambil menjilati permen lolipop kegemarannya. Ujung lidahnya bergerak-gerak pada permen berwarna-warni itu. Dia menjilati lolipopnya, menikmati rasa buahnya, sembari berpura-pura tak memikirkan apa pun.
Tapi kepura-puraan tak memikirkan apa pun tak bisa meredam kecamuk yang berdesak-desakkan dalam syaraf otaknya. Kecamuk itu tergurat jelas pada wajahnya yang muram. Perempuan itu sebenarnya berwajah cantik, tapi kemuraman menutupi pesona keayuannya.
Kabut hitam menyelubungi pikirannya, mengunci benaknya hingga terpusat hanya pada satu hal: Kematian.
Pikirannya melesat bagai peluru yang meletus menembus seluruh bagian-bagian tubuhnya. Menyeruak melewati langit-langit kafe hingga lepas menghujam atap. Meledak.
Dalam keremangan pandangan yang samar-samar lantaran cahaya lampu yang minim dan tertutup asap rokok yang diembuskan oleh mulut seluruh pengunjung kafe, dia melihat ruhnya lepas dari tubuhnya dan terbang ke langit. Dia ingin mengejarnya, tapi tak dilakukan. Bukankah kini dia menjelma sebagai ruh yang keluar dari tubuhnya dan terbang ke angkasa?