Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop

Di panggung kafe, liukan tubuh perempuan penyanyi kafe senada dengan irama musik yang berdentam mengelegar, penyanyi itu mengangkat tangannya ke atas kepala, lalu dia menggerakkan tangannya menyisir rambutnya yang panjang tergerai bergelombang menuruni punggungnya.
“Jakarta digoyaaaaannngggg!!!” Jeritnya histeris. Perempuan penyanyi itu mengajak pengunjung kafe bernyanyi dan berjoget bersamanya.
Musik berdentum-dentum keras melatari pembicaraan beberapa pengunjung kafe yang tengah menikmati malam minggu.
Di sebuah sudut gelap kafe, duduk sendirian perempuan yang terlihat berwajah muram, sedang menjilati permen lolipopnya, sembari sesekali dia menenggak sebotol minuman bersoda.
Aku mendekati perempuan yang kesepian itu, untuk sekadar memberi kehangatan dan gurauan agar ia tak bersedih. Perempuan itu mengendus. “Wangi Hugo,” gumamnya.
“Ya, aku di sini,” sergahku.
Perempuan berwajah muram itu tetap saja dalam diam. Tetap saja menjilati lolipop. Tetap saja mencengkeram leher botol minuman bersoda. Dan menangis. Perempuan lolipop itu kekasihku. Bulan depan kami berencana menikah.
“Mana si Mungil?”
Sedikit menoleh ke belakang. Dari arah toilet perempuan bertubuh mungil dengan rambut pixie cut yang ikonik, datang mendekat. Dia telah mencuri segenap perhatianku, bahkan nyawaku. Dia memberi isyarat dengan kedipan mata, agar aku segera mengikutinya. Perjalanan sepertinya segera dimulai.
“Ke mana?”
“Main bola!”
“Dan, minum bir, ha.. ha.. ha…!” (*)
 

Jakarta, 11 Juni 2012

Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan Cerpennya Tangan untuk Utik (Koekoesan, 2009).

.
.

Arsip Cerpen di Indonesia