Dia gembira bukan kepalang menyadari dia bisa terbang, mengapung-apung di angkasa. Serasa mimpi memang, tapi ini nyata. Dia terbang. Dia melesat dengan kecepatan tinggi bagai kilat halilintar. Ketika itu dia melihat rembulan begitu benderang. Bulan tampak lebih besar, lebih emas dan begitu dekat. Tatapan matanya menjelajahi tubuh rembulan, sepertinya dia ingin menelanjangi tubuh bulan. Seharusnya dia tak menatapnya seperti itu, karena bulan tak pernah mengenakan baju apalagi celana. Lagi pula, bulan belum tentu berkelamin.
Perempuan itu ingin menuju matahari, namun dia mengendus sesuatu. Wangi bunga melati tercium tajam di udara, nyaris memabukkan dirinya. Dia merasa aneh, kenapa tiba-tiba dia mencium aroma wangi melati di langit malam. Sejenak dia tercenung. Merenung sebentar, lantas dia teringat halaman yang dipenuhi oleh bunga-bunga itu. Pemakaman.
Wangi melati menggiringnya menuju sebuah apartemen dengan atap yang luas di pusat kota yang hiruk-pikuk. Dia memperlambat laju terbangnya, lantas dengan hati-hati dia mendarat di atap salah satu apartemen itu.
Napasnya sesaat tercekat di paru-parunya, dan dia bergidik. Dia mendengar suara tangisan para perempuan, batuk para manula, dan bunyi langkah kaki telanjang hilir-mudik dari dalam apartemen itu. Orang-orang melantunkan ayat-ayat suci dan bergumam-gumam merapal doa-doa berbaur dengan aroma tubuh manusia. Bau parfum yang membuai, bau ketiak yang menusuk dan bau kemenyan yang mistis.
Perempuan itu menerabas pintu apartemen yang terkuak. Melewati kerumunan orang-orang, hingga tatapan matanya menancap pada sebuah tubuh yang telah dikafani. Wajah pemilik tubuh yang telah membeku itu sangat dia kenali.
Dia mengertakkan rahangnya berusaha memendam rapat kata-kata yang ingin diteriakkannya. Dia mengerjapkan matanya. Matanya hitam, bagai sepasang kolam tak berdasar. Matanya menusuk bagai hendak menembus tubuh tak berjiwa yang terbujur di hadapannya.
“Mati main bola,” seseorang berbisik kepada seseorang yang baru saja tiba di ambang pintu apartemen.
“Bukan, kebanyakan minum bir,” bisik yang lain.
Perempuan itu melihat kelebatan cahaya berwarna putih dengan cepat menyelinap keluar apartemen menuju langit malam. Dia dengan sigap mengikuti kelebatan cahaya berwarna putih itu. Kelebatan cahaya itu menuju sebuah kafe.
Perempuan itu tertegun.