Slerok

Taris antusias membangun area yang hilang itu. Seakan esok tak akan melihat kampung itu lagi. Salah satu terobosan pikiran yang dikembangkan adalah menghidupkan kembali kegiatan belajar-mengajar di sekolah dasar yang mati suri selama 1,5 tahun.

Sekolah dengan bangunan serbasirap itu memiliki dua ruang kelas. Satu ruang untuk kelas satu, dua, dan tiga, sementara kelas empat, lima, dan enam di ruang yang satunya. Di ruang kelas hanya ada tiga gambar: presiden, wakil presiden, dan burung garuda lengkap dengan lima butir Pancasila. Tak ada peta, buku pengayaan, dan bank data kelas.

“Sekolah itu harus hidup. Sebagian anak sudah ogah-ogahan belajar, lebih memilih mengumpulkan biji mahoni dan sengon daripada turun-naik sekadar belajar cara berbahasa Indonesia yang benar. Kaki-kaki itu lelah setiap hari terluka kena batu cadas jalan setapak. Kasihan bukan, mereka juga anak bangsa.”

Masalahnya hanya Taris seorang yang iba. Taris mengerti di antara para pencinta alam, dalam kondisi seperti ini, hanya aku yang memahami perasaannya. Dan, dia menutup cerita sembari merajuk dengan nada iba: aku butuh bantuanmu.

Uluran tangannya tanpa jeda membuka cakrawala. Alif ba ta tsa, ilmu hitung, cerita rakyat, dan pantun jenaka terselip renyah di antara tawa canda. Bau lapuk sirap dilahap rayap dan aroma keringat lenyap oleh wewangian di tubuhnya.

Tak mudah berdamai dengan masa silam yang sesekali bertandang sebagai rasa sesal.
Namun, tatapan sendu anak perempuan yang terbaring di atas lincak beralas rajutan serabut daun pinus menyadarkan betapa masa silam datang bukan untuk dihukumi, apalagi dirutuki, melainkan menjadi cermin untuk melangkah.

“Sudah kuduga kakak pasti senang,” suara Wulan ringan, namun menjerat leher.

Ada cahaya di matanya. Lidahku menebal. Telingaku mengental. Tangan Wulan terasa dingin menggenggam pergelangan tanganku. Energi itu memberikan keyakinan betapa dugaannya tidak salah.

Baca juga: Slerok – Cerpen Fandrik Ahmad (Kompas, 15 Juli 2018)

Bentuk alisnya yang tebal melengkung menipu pandangan seolah dia berbaring karena kecapaian biasa. Sakit yang tak bisa dia lawan seperti sirna oleh senyum yang selalu mengembang. Bibirku berat untuk ditarik, tetapi harus kutarik, demi Wulan.

Malam itu langit bersih meski hanya dengan sedikit bintang. Memasuki pergantian musim, Gunung Raung seperti dipeluk duri-duri tajam. Angin berkesiur membangkitkan bulu kuduk. Deru generator meraung-raung. Sebentar lagi, mesin itu akan mati karena sudah larut malam. Generator itu memiliki nyawa enam jam per hari untuk menghasilkan tenaga listrik.

Arsip Cerpen di Indonesia