Baca juga: Tenung – Cerpen Fandrik Ahmad (Kompas, 25 Januari 2015)
Kini, Wulan sudah pergi. Tubuhnya berdiri di puncak Gunung Raung dengan lambaian tangan yang khas. Dia tampak berpamitan sebelum melakukan perjalanan jauh, entah ke mana. Gamitan tangan dingin itu masih membekas di pergelangan tangan. Baru terasa jika rasa dingin itu simbol kepasrahannya pada keadaan.
Akhir-akhir ini, pikiranku dicekoki berbagai argumen untuk meninggalkan Slerok. Apa yang perlu ditunggu lagi. Perempuan yang diharapkan datang tak mungkin kembali. Dia sudah memiliki imam, penuntun hidup. Membangkang pada imam berarti memaktubkan diri menjadi penghianat.
Senyum Wulan, dengan segala perjuangan dan kelelahan, membuat perasaan untuk meninggalkan Slerok menyisakan rasa malu. Dia berjuang membangun harapan sampai di atas kerongkongan. Apakah kakak menyerah dan meninggalkan kami hanya karena Kak Taris tak kembali? Di dalam mimpi, berkali Wulan bertanya.
Dalam kondisi apa pun, puncak gunung tampak berwibawa. Bulan sabit bertengger di atasnya seperti bando anak perempuan yang terlepas. Rindu ini tak pernah berada di titik nadir.
Undangan itu masih kudekap. Dada terasa pecah. Mata jadi perih ingat pesan Wulan: sampaikan salamku pada Kak Taris. Ada senyum di sana. Di puncak Gunung Raung. (*)
Jember, 1 Juni 2014
(Dedikasi untuk almarhum Ribut Sri Wulandari)
Fandrik Ahmad, cerpenis sekaligus jurnalis yang banyak menulis cerita di sejumlah media, seperti Jurnal Nasional, Nova, Republika, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Femina, Jawa Pos, dan lain lain. Kini bermukim di Jember, Jawa Timur.