Slerok

Benar! Raungan itu kini mati. Rumah-rumah berdinding sirap dengan jarak yang berjauhan seperti sebuah peti mati peninggalan sejarah. Ada suasana dingin, gelap, dan muram bergelantungan di dinding kamar.

Penduduk tak berani membangun rumah yang lebih megah dari itu. Lahan di sana secara legal milik Perhutani yang menanungi area hutan pinus. Memberikan izin permanen membuat masalah tentang urusan klaim kepemilikan lahan. Di samping itu, bangunan permanen susah didirikan karena kontur tanah yang berbatu dan jalan transportasi yang sulit dilalui.

Dari celah dinding sirap, di situ aku leluasa melirik langit dengan dua bintang yang tertangkap oleh pandangan. Kesiur angin berdesir menudung reranting pinus. Deru serangga malam terasa dekat. Ingin kumainkan harmonika, tetapi lidah rasanya terkunci untuk berirama.

Malam seperti kembali mendamparkanku sebagaimana malam pertama di tempat ini. Butuh waktu seminggu tubuhku menyesuaikan diri dengan suhu yang seperti sayatan pisau cukur. Selimut tidak melelapkan mata. Dingin kerap melawan. Semalam suntuk waktu kuhabiskan duduk sengkil, memandang puncak Gunung Raung.

Lolongan anjing menemani pandangan sunyi. Pikiran berkelana pada suatu masa yang melelahkan. Taris pamit untuk menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswi. Skripsinya mandek hampir tiga semester.

Baca juga: Solilokui Kemboja – Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 30 November 2014)

“Paling lama enam bulan,” pintanya.

Berat membayangkan saat dia tiada, aku sendiri mengurus enam kelas sekaligus kendati secara realitas hanya ada dua kelas. Karena keterbatasan fasilitas, saat ini dua ruang kelas itu dipakai untuk kelas satu, dua, dan tiga, sementara kelas empat, lima, dan enam ‘dimutasi’ dengan sistem sekolah jarak jauh ke SDN Sumber Gadung, 1,5 kilo di bawah Kampung Slerok. Peran ganda kulakukan: pukul enam mengantar anak kelas empat, lima, dan enam, dan pukul delapan mengajar kelas satu, dua, dan tiga.

Bukan namaku yang tertulis di atas undangan. Undangan ditujukan untuk Ustaz Izzuddin, pengasuh pondok tahfiz, tempat Wulan belajar agama selepas lulus dari sekolah reot itu. Tanggal resepsi pernikahan sudah lewat dua bulan lalu. Wulan sengaja menyimpan undangan warna merah marun itu untuk menunjukkan kabar bahagia kepada seluruh penduduk Slerok. Orang pertama dia pilih adalah aku.

Wulan hanya segelintir bocah lereng gunung yang hidup karena mimpi-mimpi Taris. Taris jago membakar motivasi betapa hidup untuk mengabdi. Dia mampu mengubah keterbatasan menjadi ketak berhinggaan. Dia bukan hanya berhasil meyakinkan bocah-bocah untuk terus meraup ilmu demi menjaga kemungkinan yang tidak diinginkan, tetapi berhasil meyakinkan orang tua bahwa tak ada yang sulit asal berusaha. Sebagai orang tua, tentu mereka ingin anaknya memiliki kehidupan lebih baik, yang tidak hanya mengandalkan tenaga fisik, naik-turun gunung sekadar untuk bertahan hidup.

Arsip Cerpen di Indonesia