Menghitung Waktu yang Sia-Sia untuk Menunggu

BERHARI-HARI berikutnya, karena kesibukan, saya jadi lupa dengan wanita itu. Untuk menyempatkan satu jam saja dalam hidup saya untuk menemuinya saja sangat susah. Sudah saya reka-reka waktu yang memungkinkan saya bebas dari berbagai pekerjaan, tetapi selalu saja ada masalah-masalah baru yang muncul. Sekali-kali ada waktu, malah cuaca yang tidak mendukung, atau saya sedang tidak enak badan. Menyempatkan diri untuk menemuinya sekali saja sangat susah, kecuali saat saya ditugaskan ke luar kota dengan naik kereta. Dengan begitu, saya dapat menyempatkan waktu, barangkali, beberapa menit untuk sekadar melihat dengan jelas raut wajahnya, melihat matanya, tersenyum kepadanya, atau barangkali jika sempat, menyapanya saja.

Saya ingin ke luar kota agar bisa ke stasiun, tetapi tidak ada lagi seminar yang harus saya datangi. Saya berniat melakukan liburan bersama istri saya, tetapi saya tidak punya waktu liburan barang sehari saja. Pekerjaan saya bertambah banyak. Menyiapkan bahan ajar, melakukan penelitian, mengoreksi pekerjaan mahasiswa saya, membuat laporan,membaca buku, dan sebagainya. Saya merasa, hidup saya ini, semacam hidup sebuah robot. Setiap waktu saya harus kerja. Jam sekian saya harus begini. Jam sekian saya harus begitu. Jam segini saya melakukan ini. Jam segitu saya melakukan itu. Semuanya terjadwal. Bahkan untuk melakukan aktivitas bersama anak saya pun saya tidak sempat. Istri saya pun demikian. Kami seolah-olah menjelma robot yang pekerjaannya sudah terjadwal dan harus terlaksana. Jadilah anak-anak kami harus terlantar.

Saya sadar bahwa saya tidak seharusnya bekerja seperti ini terus menerus. Untuk itu, saya mengajukan permohonan untuk liburan. Berkali-kali saya ajukan, tetapi gagal. Imbasnya, saya diizinkan dengan syarat. Saya pun menyanggupinya.

Sorenya, saya bersiap-siap ke Surabaya. Dengan menggebu-gebu saya minta diantar oleh istri beserta anak-anak saya. Saya tidak bisa membawa mereka karena saat-saat keberangkatan saya bukanlah saat hari libur atau liburan sekolah. Saya liburan sendirian. Saat kami sudah sampai di Stasiun Tugu, saya masih mendapati wanita itu duduk di kursi panjang stasiun. Posisi, pakaian yang ia kenakan, dan tengokan masih sama seperti kali pertama saya melihatnya. Ia masih saja menatap ke barat, ke arah kedatangan kereta api.

Arsip Cerpen di Indonesia