Saya pun bergegas menemuinya. Saya tidak tahu kalau anak dan istri saya membuntuti saya. Kedua anak saya menuding-nuding wanita itu.
“Ayah, apakah wanita yang duduk di kursi panjang itu patung?”
“Bukan,” jawab saya.
Saya pun segera mendekati wanita itu. Saya lihat istri saya sedang mengawasi gelagat saya.
“Saya hanya penasaran siapakah yang ia tunggu,” jawab saya. Istri saya paham. Maka dengan saya gandeng tangannya, kami pun mendekati wanita itu. Semakin dekat, istri saya melepaskan genggaman tangan saya, mungkin ia cemburu. Saya pun segera menengok wajahnya. Ia cantik, walaupun mulutnya terbuka karena menganga dan matanya menerawang, melihat jauh ke arah rel di ujung barat.
Saya tatap matanya sembari mengguratkan senyum. Namun sayang, wanita itu tak mau membalas senyum saya. Saya lihat istri saya mengeluarkan tisu, barangkali ia terharu dengan kesetiaan wanita itu dalam menunggu. Saya lihat lagi istri saya, ia menutup hidungnya. Memang ada bau, barangkali memang karena wanita itu saking setianya, tidak sempat mandi. Saya panggil wanita itu, tetapi tidak ada sahutan. Saya pun memegang tangan kirinya. Saya penasaran pada isi dari secarik kertas yang ia genggam di tangan kirinya. Ternyata itu adalah sebuah kalender. Dari bulan lalu ia coret semua tanggalnya sampai pada bulan ini, yaitu sekitar seminggu yang lalu. Dari seminggu yang lalu sampai hari ini, tidak ada coretan. Mendadak saya merasa ngeri. Saya goyang-goyangkan tubuhnya. Kaku. Saya pegang pergelangan tangannya. Tidak ada denyut nadi. Kulitnya juga sudah membusuk. Barangkali itu sebabnya istri saya menutup hidungnya. Saya lihat ke sekeliling. Saya pun mengabarkan ke petugas stasiun bahwa wanita itu telah mati. Ambulans datang. Orang-orang pun berkerumun menyaksikan jenazah wanita itu dimasukkan ke kantong mayat lalu diangkat ke ambulans.
“Istriku, kau lihat, wanita yang telah menjadi mayat itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang ingin kutemui saat kamu menjemputku di stasiun ini seminggu yang lalu. Barangkali, saat itu, wanita ini juga telah menjadi mayat. Apakah memang, dalam hidupnya, manusia harus menyia-nyiakan waktunya hanya untuk menunggu?”
Bantul, 20 November 2014
Achmad Muchtar, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia FIB UGM. Menyukai buku, sastra, film, dan sepi. Tinggal di Yogyakarta.