Kelompok-kelompok orang berdatangan dari tempat kerja mereka untuk menyapu lapangan alun-alun yang luas. Meihat prosesi agung orang-orang yang menyandang sapu dengan iringan para polisi dan petugas yang diselingi jepretan kamera para fotografer ini, para buruh itu menyadari bahwa iring-iringan itu adalah rombongan orang penting dan mereka pun tertarik untuk melihat dari lebih dekat. Betapa luar biasa seorang wali kota menyapu di jalanan, pikir Sekrretraris Zhao, yang dipenuhi rasa bangga tanpa sadar saat dia berjalan di samping wali kota dengan sapu tersandang di bahu.
“Di sinilah tempatnya,” ujar si petugas berpita merah ketika mereka telah mencapai titik yang telah ditentukan.
Kedelapan puluh dua orang terkemuka itu pun mulai menyapu.
Kerumunan orang-orang yang melihat, yang terus dihalau menjauh oleh polisi, berceloteh ribut dengan riang gembira, “Lihatlah orang yang di sebelah sana itu.”
“Yang mana? Yang berbaju hitam?”
“Bukan, yang gemuk botak berbaju biru.”
“Jangan ngobrol saja!” bentak seorang polisi.
Alun-alun itu sangat luas sehingga mereka bingung harus menyapu di sebelah mana. Pelataran yang ditembok sudah tampak bersih. Tapi mereka mulai dari sana. Mereka menyapu sedikit kotoran bolak-balik dengan sapu-sapu besar mereka. Sampah yang paling mencolok adalah sehelai bungkus permen yang mereka kejar beramai-ramai seperti anak-anak mengejar capung.
Para fotografer merubungi sang wali kota. Sebagian bahkan merunduk dan menekuk sebelah lutut untuk mencari gambar yang bagus dari sudut menyamping. Bagai segumpal awan di tengah badai, sang wali kota terus-menerus disinari oleh lampu kilat kamera. Lalu seorang lelaki bertopi yang membawa kamera video menghampiri Sekretaris Zhao.