“Saya dari stasiun TV,” ujar lelaki itu. “Bisakah Anda meminta mereka semua berbaris dalam satu barisan agar mereka tampak rapi di kamera?”
Sekretaris Zhao meminta pendapat wali kota yang ternyata menyetujui permintaan ini. Orang-orang penting itu kemudian membentuk satu barisan panjang dan mulai menggerak-gerakkan sapu mereka demi kamera, tak peduli ada kotoran atau tidak di atas permukaan tanah.
Kamerawan sudah hendak mengambil gambar ketika dia sekonyong-konyong berhenti dan berlari ke arah wali kota.
“Maaf, Yang Mulia,” ujarnya, “tapi Anda semua harus menghadap ke arah lain karena Anda semua memunggungi matahari. Selain itu saya juga ingin agar seluruh barisan berbalik agar Anda berada di paling depan.”
“Baiklah,” kata sang wali kota menyetujui dengan penuh semangat dan bergegas memimpin barisan, seperti sekawanan penari barongsai, dengan gerakan yang wagu. Tak lama mereka pun kembali menyapu. Dengan senang hati kamerawan itu berlari ke muka barisan, mengangkat ujung topinya, dan membidikkan kamera ke arah wali kota. “Baiklah,” katanya saat kamera mulai merekam adegan, “ayunkan sapu. Bersama-sama––lakukan dengan penuh penghayatan––ya, begitu! Tolong angkat dagu, Yang Mulia. Tahan––bagus––ya!”
Dia mematikan kamera, menjabat tangan sang wali kota, dan mengucapkan terima kasih karena telah berkenan membantu seorang reporter jelata menunaikan tugasnya.
“Mari kita sebut ini hari yang luar biasa,” ujar si petugas berpita lengan merah kepada Sekretaris Zhao. Lalu dia menoleh ke arah wali kota. “Anda telah berhasil menyelesaikan tugas mulia ini dengan gemilang,” ujarnya.
“Bagus––terima kasih sudah repot-repot,” sang wali kota berbasa-basi seraya tersenyum dan berjabatan tangan.