Ada Yoko di Societeit Straat

“I am sorry, Ken.” Sebuah pelukan, satu ciuman sekilas, dan seucap terima kasih karena telah membantunya melewati masa sulit, itu yang kudapat. Tak ada amarah, malah ketika Julia kembali di depan pintuku beberapa hari kemudian, aku sungguh berharap ia berubah pikiran dan meralat kata-katanya. Ternyata ia cuma mengambil hair straightener yang tertinggal di laci lemari, dan mengabarkan pernikahannya akan dilaksanakan paling lambat tiga minggu lagi.

“Sudah lama sekali…,” Yoko tersenyum takjub mendengar kembali perjalanan cintanya dari mulutku. Ya, hampir lima puluh tahun lalu, potongku sok tahu. Kalau John masih hidup, pasti kalian akan menggelar ulang tahun pernikahan emas, mungkin pesta berdua di atas ranjang disaksikan oleh seluruh penduduk bumi, bed-in for peace.

“Setidaknya kami pernah bermimpi untuk mengubah dunia,” tawa Yoko memecah, riang.

“Kalau begitu Anda setuju ungkapan ini, untuk dapat mengubah dunia ubahlah lebih dulu dirimu?”

“Bodoh,” Yoko menopang dagunya dengan salah satu jari, “Tidak satu pun manusia yang bisa mengubah dirinya. Yang terjadi hanyalah orang-orang bergerak mendekati keaslian mereka. Masing-masing hanya sanggup kembali kepada keadaan asal.”

“Maksud Anda, kita semua sedang berjalan mundur?”

“Kau pikir kita sedang membuat kemajuan? Sedang melakukan perbaikan?”

Yoko menyembunyikan tangannya lagi, menutup rapat bibirnya hingga setipis lembaran crepes tanpa isi. Dinding putih Societeit Concordia, gedung bekas kamar bola di zaman kompeni berkuasa mulai memantulkan sinar matahari. Bayang-bayang keangkuhannya sedikit demi sedikit jatuh di atas trotoar berkeramik.

Palo Alto bukan Surabaya, di sana orang kaya bukan cuma satu dua. Setiap keluarga hidup makmur dan—meskipun ada, orang miskin terlalu sedikit jumlahnya. Gaji terakhirku sebagai spesialis cyborg tiga miliar setahun jika dirupiahkan. Pekerjaanku pekerjaan impian, walau aku mengawalinya dari sebuah keterlanjuran yang naif. Ketika kupamerkan kemeja seragam SMA yang penuh coreng moreng tanda tangan, papa menyindir, “Apa hebatnya? Anak Shu’ Alim ndak perlu gitu-gitu, lulus, langsung berangkat ke Amerika.” Apa yang lebih penting dari membuat kebanggaan papa kepadaku sebesar kekagumanku kepadanya?

Arsip Cerpen di Indonesia