Ada Yoko di Societeit Straat

Begitu Universitas Stanford membuka gerbang, kumulai hidup baru sebagai mahasiswa imigran dengan uang saku pas-terbatas, cerita klasik yang kelak menarik untuk diceritakan sebagai kisah motivasi. Pada tahun-tahun berat mendekati ke lulusan, otakku memadat, rindu papa, mama dan rumah toko kami di Jalan Panggung. Tidak bisa pulang karena kedutaan memberlakukan travel warning ke Surabaya setelah ada laporan ancaman keamanan di hotel dan bank yang berafiliasi dengan negeri Obama. Kucoba melelehkan lelah dengan berjalan-jalan, mendatangi kelas jurusan humaniora, di situ Julia ada. Kearifan Asia menjadi pusat perhatiannya, jauh dari ketertarikanku kepada semikonduktor. Tapi aku lantas begitu saja tersesat pada mimpimimpinya yang serumit sirkuit dan rambutnya yang tembaga. Julia bertahan denganku untuk beberapa waktu. Barangkali karena aku informan yang baik, menjawab semua keingintahuannya tentang kehidupan orang-orang Tionghoa di Indonesia. Tepukan sebelah tangan yang tak kusangka lama pupusnya.

Yoko berjalan maju, mendekat ke bangunan paling ikonik di sepanjang jalan ini, dulunya adalah clubhouse tempat sinyo-noni Belanda totok di Surabaya berkumpul dan berdansa-dansi. Hampir seratus tahun silam, arsitek G.C. Citroen merombaknya menjadi kantor perusahaan minyak, mengganti ornamen klasiknya dengan elemen art deco, mengubah arah pintu masuk jadi membelakangi Kalimas dan merubuhkan balkon di lantai dua tempat meneer-mevrouw duduk-duduk bercanda ria. Tak ada lagi pesta, orang datang ke sana untuk bekerja. Societeit Straat bukan lagi sebuah kawasan pergaulan, mereka yang berdandan dan datang untuk menarik perhatian bergeser ke Tunjungan, atau ke Simpangsche Straat beberapa waktu kemudian. Jalan ini, hingga namanya diganti jadi Jalan Veteran, adalah jalan bagi orang-orang kantoran.

“Anda salah,” sangkalku, “Manusia berubah.” Yoko tak tampak tersinggung, tetap tenang, air mukanya datar, “Dulu kukira juga begitu.” Lalu kenangan-kenangannya tentang John meluncur acak, betapa ia tak tahu-menahu secuil pun tentang lelaki ceking berkaca mata bulat yang datang sehari sebelum eksebisi perdananya resmi dibuka. Pemilik galeri hanya mengenalkan pemuda itu sebagai miliarder—siapa tahu berminat membeli salah satu karya yang di pajang. “John begitu ceriwis,” cerocosnya. Bertanya macam-macam dan kentara sekali berusaha menarik hatiku. Aku tak peduli sekali pun ia seorang front man band terkenal se-Inggris Raya, simbol kejayaan generasi bunga, pujaan pemuda-pemudi sedunia….

“Jujur saja,” kusergah, “Sejak semula Anda telah menginginkannya.”

Arsip Cerpen di Indonesia