Juliakah yang mendorongku pulang? Sebab setelah sekian lama sejak kepergiannya, kalimat terakhir dari emailnya itu bagai spora beterbangan dan menempel di dinding-dinding otakku, tumbuh bersulur-sulur seperti tanaman rambat liar, hingga kurasa tidak ada pilihan yang lebih baik kecuali menghindar.
“Kau tahu apa yang akan lewat sebentar lagi di depanmu?” Yoko terus asyik dengan gambarnya yang tidak taat skala, “Sebuah trem listrik.”
“Trem listrik….” Aku sudah mendengar kabar itu sejak lama, kataku. Pemerintah Surabaya berencana menghidupkan lagi jalur trem dalam kota. Aspal dan jalur hijau akan dikeduk, rel perlintasan peninggalan Oost Java Stoomtram Maatschappij yang terpendam di bawahnya akan difungsikan kembali. “Wajah kota ini akan kembali seperti pertengahan abad sembilan belas….”
Yoko mengerling jenaka. “Masih tak percaya, manusia tidak pernah mampu berubah?”
“Anda lupa satu hal, manusia menciptakan teknologi,” aku membela diri, “Itu cara manusia mengubah dirinya sendiri.”
Yoko membuang muka. Angin menerpa dingin. Sebuah kereta dengan lokomotif menyerupai moncong buaya melintas dari arah Jembatan Merah menuju selatan kota Surabaya, berlogokan BoyoRail, berpenumpang anak sekolah, lelaki-lelaki berdasi, perempuan-perempuan ber-rok mini, ibu-ibu menggendong bayi. Sejenak aku merasa seperti melihat film dokumenter tua yang diperbarui warnanya. Tak ada asap, kereta ini bukan kereta uap seperti yang pernah berjaya di era kolonial, melainkan sebuah transporter masal yang konon ramah lingkungan karena dioperasikan dengan baterai tanpa emisi, memihak rakyat kecil karena harga karcisnya tidak lebih mahal dari harga setengah liter bensin, berkat subsidi. Wisatawan memotret dengan kamera ponsel mereka yang berpiksel tinggi, sementara anggota dewan yang melintas dengan mobil dinasnya melirik sinis, di atas kepalanya tertiup gelembung kata, “Bagaimana bisa kota ini membangun sebuah moda angkutan yang telah banyak ditinggalkan oleh kota-kota besar dunia?”
Yoko tak mengucapkan apa-apa lagi, hanya dengan cepat meringkus hasil sketnya menjadi seonggok bola kertas kecil dan melemparnya sembarangan. Kupungut dari ujung kakiku, kubuka hati-hati. Hasilnya bukan gambar konstruksi yang presisi, hanya persegi-persegi, jendela-jendela panjang yang rancu apakah itu detil arsitektur bekas Societeit Concordia yang kini jadi gedung Pertamina, ataukah eksterior Indica Gallery yang kini bahkan sudah tak ada bekasnya. Yoko membuat banyak goresan, garis-garis yang kekanak-kanakan tapi begitu hidup, seakan memanggil-manggil untuk diperbaiki di sana-sini, dimatangkan, diindahkan, diwujudkan.