Ada Yoko di Societeit Straat

Yoko terdiam, tulang pipinya yang tinggi tak menopengi terawang tatapannya, “Ya. Tapi kami sering berselisih….”

“Bagaimana Anda dapat terus mencintainya?”

Senyum Yoko memuai sekejap, kulit wajahnya seputih susu murni, kental tanpa kerutan. “Tak adakah sesuatu yang tetap dalam hidupmu?” Di hadapanku berdiri seorang perempuan berumur lewat sewindu dengan binar kasmaran perawan kencur.

Aku tak punya tujuan hidup. Seingatku, sampai sejauh ini aku selalu selamat hanya karena kebetulan pintar dan bernasib baik. Murid terbaik di sekolah terbaik, tidak berkelebihan tapi juga tak sampai kekurangan uang, jarang sakit, banyak koneksi, belum sekalipun mengalami patah hati. Pada salah satu kencan di cafetaria kampus, Julia pernah menginterograsiku panjang lebar, apakah masa kecilmu bahagia, pernahkah dilecehkan, tertarikkah kau kepada sesama jenis, bagaimana pendapatmu tentang pernikahan, apakah kau membaca karya-karya sastra Yu Hua, apa rencanamu setelah ini—pulang ke negaramu—menikahi pacar SMA-mu atau tetap di sini dan jatuh cinta kepada sembarang gadis yang kau temui?

“Kau benar-benar pewawancara yang buruk,” kucium bibir tebal Amerikanya tanpa bernapas, “Apakah jatuh cinta dapat direncanakan?”

Sungguhpun demikian, menikahinya bukan tujuanku. Tak pernah terpikir membawa Julia ke hadapan mama, papa, engkong, apalagi mengenalkannya kepada Mak Co. Membeli apartemen dua lantai untuknya, mengambil alih semua beban finansialnya, menyayangi bayinya jiwa raga, jelas bu kan pencapaian. Pengorbanan mungkin, atau sekadar dorongan impulsif, entahlah. Setiap mengingatnya aku menyesal, bertanya-tanya bisakah waktu diputar, bukan demi uang yang terbuang percuma, melainkan agar dapat kupinang ia dalam sebuah makan malam romantis di restoran Flea Street.

“Jadi, mengapa kau pulang?” Yoko mengambil dari balik jaketnya block notes dan sebatang pensil charcoal, mulai membuat sketsa Societeit Concordia dari arah utara. Ia telah menduga aku akan butuh waktu untuk menjawabnya. Mama menelepon, papa terserang stroke ringan, adik bungsuku akan melangsungkan pernikahan, sepupuku akan melahirkan, teman-teman seangkatanku di sekolah Frateran merancang sebuah reuni besar-besaran. Untuk semua itukah aku kembali ke Surabaya? Oh ya, sebenarnya bos memintaku menjajaki pasar robot di Asia Tenggara, termasuk Indonesia tentu saja. Jadi tidak ada salahnya aku mampir ke rumah orang tua barang sepekan. Terdengar durhaka? Bagaimana dengan surel Julia yang datang tiba-tiba? Ia berkabar sedang memerlukan bantuan, setidaknya butuh pendapatku tentang rencananya mengembangkan aplikasi pohon keluarga, sebuah program komputer yang memungkinkan penggunanya merunut silsilah sampai ratusan turunan ke belakang. Dengan begitu kita dapat mengenali asal-usul kita, jika perlu menelusuri kita ini reinkarnasi siapa. Julia menutup suratnya dengan retoris, “Tidakkah kau pikir kita perlu sebuah alternatif mekanisme ziarah, Ken? Bukan dengan mendatangi kuburan-kuburan dan membongkar situs-situs kuno, tapi dengan teknologi paling sekarang.”

Arsip Cerpen di Indonesia