Kau benar-benar datang, matamu cerlang dan berkali-kali kucoba melarikan pandangan darimu. Aku takut rasa itu mendesak ke permukaan, aku menghindarinya. Tanganku bergetar ketika melingkarkan kafan ke tubuhmu. Kau telah siap irebba, sebagai wujud serahterima ke-bissu-anmu dengan Dewata. Seminggu sebelumnya, kau tentu telah berpuasa tujuh hari tujuh malam dan bernazar untuk setia di hari terakhirmu.
“Kau siap?” tanyaku tanpa menatap matamu, aku menghindar dari perasaanku. Tabu bagi lelaki yang mencintai lelaki. Apalagi aku bukan orang biasa sekarang, lebih dari tabu jika bissu saling mencintai. Tetapi, perasaan ini selalu mendesak hendak keluar. Menyeruak.
Beberapa jenak setelah mengangguk, kafan telah utuh melingkupi badan kecuali wajahmu. Puang Matua Rakka mendekat, ia membisikkan sesuatu ke telingamu. Itu mantra basa to rilangiq, bahasa langit yang hanya mampu dimengerti oleh bissu dan Dewata.
Beberapa hari lagi, setelah sempurna ke-bissu-anmu, sudah pasti aku kehilangan kau sebagai lelaki yang kucintai, kendati tidak pasti aku kehilangan cinta juga. Seandainya kau tak ada di ujung telunjuk takdir sebagai penerus yang akan merawat bola arajang. Seandainya. Aku masih bisa berharap hidup bersamamu, aku tetap sebagai bissu, kau tetap menjadi lelaki biasa yang kemayu. Jika saja itu terjadi, maukah kau jadi To Boto, Upe? Saban waktu menyiapkan sajen untuk upacara adat, dan menjadi teman hidupku yang kucintai? Maukah? Tak pernah kutanyakan itu. Air telanjur terbanjur ke dalam minyak, terlambat. Kau mendekam di dalam loteng, kau serupa mayat, telentang disaput kafan. Dan memang begitulah seharusnya. Kau tidak boleh melakukan apa pun kecuali bernapas. Guci bertuah kugantung di atasmu dengan air yang terus beriak di dalamnya. Kelak di hari terakhir guci itu akan dipecahkan sebagai wujud penerimaanmu.
“Bencong! Pergi kau, main di dapur saja, tak cocok kau main bola sama kami.”
Aku mengenangnya, umpatan dan cibiran macam itulah yang membuat kita dekat. Kau tak punya teman main semasa kecilmu. Begitu pula aku. Bencong! Begitu teman sebaya mengumpati kita, kau pasti segera berlari dengan air mata berderai, mengangsur langkah ke arahku. Aku akan menimpali tangisanmu. Sebab kita sama, Upe, aku merasakannya juga. Tetapi, kini semuanya berbeda, orang-orang akan menunduk, berlaku hormat dan membumbung segan kepada kita. Di Tanah Bugis ini, tak ada yang berani menghujat bissu. Kita hanya butuh meludah untuk menghilangkan kemaluan mereka seperti mengebiri anjing. Dewata ada di setiap tarik-embus napas kita, Upe, percayalah!