AKU melihat matamu masih diliputi pertanyaan. Aku ingin menjawabnya. Tapi, bagaimana? Aku tidak punya lidah setelah aku dibawa ke tempat ini. Karena Dewata masih ada pada tarik-embus napasku, tak sedikit pun peluru, silet atau pisau dari mereka mampu menggoresku. Tapi….
“Kau tidak bisa lagi membaca mantra, Asu!” Mereka lantas tergelak dengan tangan yang memerah darah dan bilah bambu yang baru saja mencampakkan lidahku. Kepalaku pusing, mulutku anyir, kulihat sosok yang dibanjur cahaya.
Kau mengguncang pundakku, aku buru-buru menyeka air mata dan merapikan kembali ingatanku.
“Pakailah,” katamu setelah merogoh saku jaket dan mengeluarkan amplop berwarna cokelat. “Gunakan buat hidup kalau nanti masa tahananmu sudah habis. Jadi mantan tapol itu susah berbuat apa pun.”
Aku diam, melongo dan bertanya dalam hati, ini apa?
“Ini sebagian gaji selama kerja jadi kurir sama bantu-bantu sipir di sini. Simpanlah!”
Leherku tercekat mendengarnya. Kau berlalu setelah menepuk pundakku, langkahmu masih kemayu ditelan tembok penjara. Amplop itu sama sekali tidak kusentuh, dadaku nyeri, perih. Aku tidak mau menyentuhnya. Aku semakin yakin, kau yang menunjukkan tempat kita bersembunyi waktu itu.
Tetapi aku masih mencintaimu, Upe. (*)
Faisal Oddang, tengah menempuh studi sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, Makassar. Novelnya, Puya ke Puya (2015).