Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku

“BAGAIMANA cara mereka memotong lidahmu?”

Kau masih menanyakannya, pundakku goyah oleh tanganmu. Kita lerai dari pelukan, kulihat air mata telah kering, menyisakan lurik di sepasang pipimu.

Hari pertama kau menjadi bissu. Bersama Puang Matua Rakka, kita ke rumah Tuah Kampung, akan digelar upacara penyambutan untukmu. Daging kerbau dimasak dalam kuali raksasa, berpeluh-peluh orang-orang itu memikul hasil bumi. Penyambung lidah dengan Dewata bertambah lagi, pikir mereka. Kita tampil berdua di muka khalayak. Dengan pakaian kebesaran bissu: kain sutra rupa warna meliliti kita, mahkota berbentuk tanduk kerbau juga dari sutra. Di pinggang kita tertancap pongah badik bertuah yang kelak kita gunakan menusuk batang leher, dan menyayat pergelangan sambil menari bersijingkat mengikuti dendang gendang ketika memeragakan maggiri. Perasaan itu kembali meletup, kututup serapat mungkin, aku harus berpayah-payah, aku takut tulah.

“Asu!”

“Orang merah!”

Kita baru berdoa kepada Dewata agar maggiri dilancarkan, gendang baru saja ditabuh ketika suaranya tiba-tiba hilang ditelan letusan dan bentakan yang entah dari mana. Baru ketika mataku awas ke sekeliling kulihat sepasukan tentara, menyentak-entak berjalan dengan wajah penuh amarah.

“Lari!” kuseru kau dan Puang Matua Rakka. Kalian berdua hanya bergeming. Aku mengingat dua bulan sebelumnya, saat Daeng Aso, guru sekolah di kampung sebelah, dicegat oleh beberapa orang: perusuh kau, orang merah, asu! Aku mendengar jelas umpatan itu. Orang merah, orang merah. Begitu mereka menyebut komunis. Tidak ada yang berani menolong ketika ia diseret dan dilempar ke mobil bak terbuka, istrinya menangis sejadi-jadinya. Malam hari setelah kejadian itu, rumahnya dibakar entah oleh siapa. Hari-hari berikutnya, dari kampung Daeng Aso, santer kabar orang-orang yang dibakar hidup-hidup, ditenggelamkan dan… ah, aku bergidik mengingatnya. Mereka yang tidak ingin mengaku orang-merah, dikuliti.

Kita benar-benar berlari. Napasmu megap-megap. Aku masih kuat. Kita menyusuri pinggir Sungai Segeri. Berlari entah akan ke mana. Yang penting kita selamat dulu, Upe, kataku tanpa memelankan langkah. Kata-kataku diterbangkan angin. Kau terus berlari, wajahmu pasi. Masih jelas di kepalaku saat Puang Matua Rakka diseret dan ratusan warga yang berkerumun tidak mampu berbuat apa-apa.

Arsip Cerpen di Indonesia