Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku

“Kampung ini aman,” kata salah seorang tentara dengan suara serak yang menakutkan. “Tapi…,” ia menggantung sejenak, kepalanya awas ke orang-orang, ada yang ia cari, “kecuali bissu. Mereka orang merah yang menistakan Tuhan.” Itu mengejutkan seperti duri yang tiba-tiba menusuk kakiku dulu ketika berjalan di pematang sawah. Kita telah menjauh dari kerumunan, di balik pohon asam yang lebih besar dari badan kita berdua, kulihat Puang Matua Rakka diseret, mirip seperti yang dialami Daeng Aso. Air mataku jatuh, kau menatapku pasi, kita lantas berlari memunggungi asap yang membubung, yang kutahu dari arah bola arajang.

Kita menyusuri Sungai Segeri hingga malam seperti mengulam alam. Kelam. Kita tidak membawa perlengkapan apa-apa kecuali pakaian adat dan tubuh yang mulai lemah. Aku terus berdoa, Dewata pasti mendengar.

“Kita menginap di sini saja,” anjurku.

“Kita lari saja terus,” kau menyanggah, masih dengan napas yang terengah.

“Tidak, Upe, kau tahukah kita akan ke mana?”

“Ke Wajo, Bone, atau Soppeng, atau ke mana saja yang ada bissu, mereka pasti mau menampung kita.”

“Butuh seminggu berlari, dan…,” Aku tidak kuat, dadaku seperti dirumpang sesuatu yang membuatku lagi-lagi tidak mampu menahan air mata.

“Dan?” Wajahmu bingung, aku mengerti, kau belum tahu bahwa seminggu sebelumnya, mereka, para bissu di kabupaten lain telah lebih dulu dibunuh. Puang Matua Mammu, pemimpin bissu di Wajo, ditangkap, dan menurut cerita Puang Matua Rakka, kawan karibnya itu diikat pada batu besar lalu ditenggelamkan di Danau Tempe. Aku tidak habis pikir, Tuhan mana yang kami nistakan? Aku berdoa lagi kepada Dewata. Kau diam, aku tahu kau lelah, kita tidur di gubuk yang tidak jauh menjorok ke dalam hutan. Dalam keadaan seperti ini, tetap saja aku tidak bisa menampik perasaanku. Kucium keningmu. Aku mencintaimu, bisikku, sebelum akhirnya ikut terlelap dan meringkuk, di sampingmu. Dini hari, kau pamit dan berjanji akan kembali saat siang. Saya mau ambil makanan atau minta bantuan sama kerabat, dia di seberang sungai, katamu. Aku mengiyakan dan kembali tertidur, mungkin terlalu lelah, aku kembali lelap.

Sejak saat itu, kita benar-benar terpisah dan aku masih mencintaimu hingga tiba hari ini: kau muncul dengan pertanyaan yang bisa saja kau tahu jawabannya. Yang datang pada siang itu bukan kau, melainkan mereka yang sesukanya mengumpatiku dengan nama-nama binatang. Aku berpikir kau telah lebih dulu ditangkap. Mungkin dicegat di tengah jalan. Atau tubuhmu sudah menyatu dengan batu dan dasar Sungai Segeri. Bukan keselamatanku yang kupikirkan ketika berkali-kali mereka mengiris wajahku dengan silet dan tak mempan, bukan diriku, melainkan kau yang memenuhi kepalaku.

Arsip Cerpen di Indonesia