“Apa kabar?” tanya pria yang di pipi sampai dagunya tumbuh ijuk-ijuk kasar agak keriting. Di kepalanya ada sehelai kain buruk. Tubuhnya juga dilindungi jaket tebal dan bau. Ia sangat berantakan dan horor.
“Apa kabar, Armand?”
Berupaya mengisutkan badan sambil meremasi celana merahku, kupandangi kamar mandi yang belum juga memunculkan ibu. Ibu pernah menasihatiku supaya menyingkir dari godaan orang tak dikenal. Tapi, tadi ibu menyuruhku agar tidak ke mana-mana.
Ketika tertunduk melawan tubuh gemetaran, dan aku tahu lelaki di hadapanku menyadarinya, pelan-pelan pria yang lebih mirip setan itu melepaskan sebagian rambut di wajahnya.
“Sudah lama, Mas?” tanya ibu yang sudah berada di belakangku.
Apa kau ayah?
“Kau sungguh Ayahku?” tanyaku ragu-ragu, tapi malah meledakkan perasaan ke pelukan yang kadang ada dan tiada itu.
“Kau sudah sangat tampan, Armand.”
“Dan Ayah sudah sangat seram. Seperti penjahat.”
“Dulu,” kataku sambil membuka tas, lalu mengambil foto keluarga, “Ayah ganteng sekali. Rambutnya tidak sepreman ini.”
“Sekarang, Ayah bekerja lebih keras.”
“Memangnya apa pekerjaan Ayah?”
“Um…”
“Ayah teman-temanku juga bekerja sangat keras. Sering pulang malam, kadang ke luar kota, bahkan ada yang ke luar negeri. Mereka sangat rapi. Pakai dasi, dan baju warna putih. Memangnya, apa pekerjaan Ayah?”