“Membela kebenaran.”
“Membela kebenaran? Tapi sepatu Ayah kok jelek sekali? Di TV, pembela negara bajunya loreng-loreng. Sepatunya lars.”
“Pembela kebenaran menurut ajaran agama.”
“Aneh. Memangnya berapa gaji membela kebenaran menurut agama?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada? Untuk apa bekerja kalau tidak mendapat gaji? Asal Ayah tahu saja, hanya aku yang tak punya uang saku di sekolah. Kawan-kawanku, uang jajannya, kalau tidak 20 ribu, 50 ribu juga ada. Mereka sering membayariku.”
“Sudah, sudah, habiskan makananmu,” ibu langsung menghentikan pembicaraan kami. Kulihat adikku merengek dalam dekapan ibu. Ayah menggendongnya sebentar, lalu menyerahkannya kembali ke tangan ibu. Kemudian ayah menumpahkan seluruh kopi hitam ke liang mulutnya. Setelah itu ayah menyerahkan uang dalam keadaan digulung-gulung. Aku tahu perjumpaan dengan ayah akan segera berakhir. Yang tidak aku tahu adalah apakah kami akan berjumpa lagi atau tidak.
“Ayah, guru dan teman-temanku sering menanyaimu. Hari ini, hari pertama memulai kelas baru. Apa Ayah akan ikut denganku? Sekali ini saja, Ayah, ayolah.”
“Maafkan Ayah, Armand. Waktunya hampir tiba. Ayah pergi sekarang.”
“Tapi di luar, basah, Ayah.”
Ayah diam saja. Ia mencium ibu, pipi adikku, dan hanya meremas bahuku. Dari garis bagian bawah mata ibu, kudapati sungai seperti jalanan yang digenangi hujan gerimis bercampur angin.
Air dingin beterbangan di kepala serta jaket hitam ayah. Yang kutahu jaket itu tidak mampu melindungi ayahku. Ayah mulai jauh dariku. Tubuhnya kian samar dalam terpaan hujan yang makin deras. Aku mendesak pemilik warung supaya meminjamkan payung. Awalnya ia tak mau. Namun karena aku menangis hingga menarik-narik ujung tangannya, ia luluh akhirnya.
“Ayah!” aku mengejar ayah, “payung, Ayah, payung!”