Setelah orang-orang jahat itu pergi, aku menyalakan TV. Ada nama yang mirip dengan nama ayahku. Susanto alias Tanto alias Sukarjo. Aku sendiri lupa yang mana nama ayahku. Katanya, orang itu meledakkan tubuhnya sendiri di dekat pos polisi. Tapi aku tak percaya. Ayahku pembela kebenaran. Ia bekerja untuk Tuhan. Ia bahkan rela tidak digaji. Apa yang lebih mulia dari itu?
Sebab tak mau ayahku dicap macam-macam, aku mencocokkan gambar yang diperkirakan itu ke gambar ayah yang selalu kusimpan di dalam tas. Sama sekali tidak mirip. Sungguh kejam orang-orang yang tega menyusahkan ibuku.
Ketika kubayangkan air mata ibu, dan tak sengaja menekan tombol yang membuat rasa nyeri di dahiku, tiba-tiba aku ingat pria yang tiga pagi lalu pergi menembus hujan dengan jaket tebal yang sangat bau. (*)
2016
Jeli Manalu lahir di Padangsidempuan, 2 Oktober 1983. Penikmat sastra dan giat menulis cerpen. Ia tinggal di Rengat, Riau.
Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id