Tapi ayah tak menggubrisku. Ia tuli pada seruan anak sulung yang teramat menyayanginya.
“Ayah! Apa kau sayang kepadaku? Apa kau sayang pada kami?”
Aku tergelincir di tanah licin, dan saat aku hendak berdiri, yang tampak di mataku hanyalah hutan dipenuhi daun-daun melambai. Jantungku berdenyut sakit. Sakit sekali. Saat itulah aku sadar kalau ayah sungguh tak sayang kepada kami.
***
Kami bertiga tiba di sekolah. Aku masuk ke lapangan dan mengikuti upacara bendera. Ibu dan adik perempuanku menunggu di kantin sambil menonton. Ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa semangat, dari jauh kuperhatikan langkah ibu yang mondar-mandir. Kadang ia menatap ke arahku, kadang ke arah TV. Aku cemas dan tak konsentrasi di barisan.
Sesaat kemudian, sewaktu pelajaran belum dimulai, ibu mendatangiku dengan wajah pucat. Tanganku ditarik. Aku diajak pulang tanpa memberitahu wali kelas. Melihat ibuku yang tampak tidak biasa, apapun ceritanya, aku menurut saja.
Sesampai di rumah, ibu mengunci semua pintu, jendela, mematikan ponsel, dan mematikan TV. Setelah itu, ibu langsung berwudu, dan kudengar ia menjerit-jerit sambil mendekap Alquran. Lalu ibu berlari ke arahku, menciumiku, dan memelukku erat-erat.
“Apa yang terjadi, Bu?”
Meski sudah malam, ibu belum juga menjawabku. Kegiatan kami hanya diam, tidak berselera makan, tak dapat tidur, dan lebih banyak berdoa. Kami mengurung diri selama dua hari. Pada hari ketiga, kami dilanda kengerian yang mendalam. Ada yang menggedor-gedor di pintu.
Orang-orang berseragam menggeledah isi rumah. Barang-barang milik kami, tidak boleh kami sentuh. Mereka sangat cerewet kepada ibuku. Bertanya ini dan itu. Padahal ibu belum sempat makan walau sesendok nasi, kecuali hanya mencicip kuah sayur yang masih mendidih di atas kompor. Lalu ibuku dibawa. Sementara dariku dan dari adikku, orang-orang itu meminta air liur dan beberapa helai rambut.