Singgah di Omerta

Mira merasa terpenjara. Sejak lelaki itu mengikuti satu pengajian ia memberlakukan banyak sekali larangan. Tak boleh mendengarkan musik, tak boleh menonton televisi, tak boleh bepergian seorang diri sekalipun itu ke pasar, ke super market, bahkan ke rumah ibu dan ayahnya. Lelaki itu juga memerintahkannya untuk menutup sekujur tubuhnya. Yang tersisa hanya sepasang mata.

Setelah bercerai Mira jadi penyanyi dangdut. Kenapa harus dangdut? Kenapa jadi penyanyi? Kenapa bukan pekerjaan lain atau kenapa dia tak pulang kampung saja, misalnya. Mira tak menjelaskan dan aku juga tak bertanya lebih lanjut. Pastinya, setahun kemudian Mira dinikahi pemilik orkes dan produser rekaman yang mengorbitkannya. Pernikahan itu berumur sama pendek. Hanya 17 bulan. Mira tak tahan pada kelakuan suaminya yang doyan main pukul dan kelayapan menyantap perempuan.

Mira Marcela mengaku telah melepas 37 album. Jumlah yang luar biasa bahkan untuk ukuran pedangdut di negeri terkasih ini. Padahal dia belum pernah masuk televisi atau sepanggung dengan penyanyi ternama. Beberapa yang menurutnya laris berjudul Enak-Enak Digoyangin, Pacaran Lagi Sama Duda, Mendhem Kangen, Terbujuk Rayu Mega Mix II, Mencari Mangsa Gaya Jaipong, dan Basah-Basah Digilir Cinta Seleksi Koplo Terheboh.

Percakapan soal pernikahan dan dangdut umumnya berhenti sampai di sini. Bukan lantaran kecewa atau tidak menarik. Namun kami memang tak pernah betah berlama-lama pada satu topik. Seingatku, satu-satunya topik yang tak diakhiri gelak tawa atau kesimpulan ngawur adalah soal racik-meracik kopi. Dia bertanya kenapa kopi yang disangrai lalu ditumbuk dengan metode tradisional akan memberi cita rasa lebih kuat dibanding kopi bubuk olahan mesin. Dia bertanya kenapa suhu air terbaik untuk menyeduh kopi antara 85 hingga 97 derajat celsius dan kenapa kopi yang telah diseduh dengan gerakan memutar tak perlu diaduk lagi. Dia bertanya mengapa penambahan gula akan membuat kenikmatan kopi berkurang. Kenapa ada Kopi Jantan dan Kopi Betina. Dia bertanya, tepatnya menggugat, kenapa penamaan jantan dan betina ini didasari bentuk biji kopi yang didekatkan pada alat kelamin–kopi jantan berbentuk bulat sedangkan kopi betina memiliki belahan yang terletak persis di tengah. Kenapa jantan dihargai lebih mahal?

Sering pula dia berada di balik meja bar membantu Deni meracik kopi. Untukku selalu diracikkannya Kopi Betina sedangkan baginya Kopi Jantan. Kenapa terbalik? Emansipasi, bilangnya. Belakangan aku tahu alasannya tak sesederhana itu.

Arsip Cerpen di Indonesia