Tujuh bulan pasca perceraiannya yang kedua, Mira bertemu seorang perempuan. Kurang lebih tiga pekan setelah kami berjumpa untuk kali pertama, dia mengenalkan perempuan itu padaku. Mata, bentuk hidung, tulang pipi, dan bibirnya mengingatkanku pada Cyrine Abdelnour, penyanyi Lebanon yang aduhai. Namanya Lena Marlena, pedangdut pendatang baru.
Hari-hari Mira Marcela kemudian riuh diisi segala hal tentang Lena Marlena. Suatu hari dia bercerita bahwa menurut Lena di masa lalu mereka berdua adalah pasangan kekasih. Tak tanggung-tanggung. Mereka bercinta-cintaan pada dua putaran kehidupan. Putaran pertama dia terlahir sebagai laki-laki dan Mira perempuan. Di kehidupan berikut posisinya berbalik.
“Sekarang kalian sama-sama perempuan. Bagaimana itu?”
Sebenarnya aku cuma bermaksud menggoda. Namun Mira menanggapi serius. “Tak masalah, kan? Kupikir aku sudah jatuh cinta padanya,” ucapnya mengejutkanku.
Meski menggebu, percintaan mereka tak mulus. Mira dan Lena bergantian memutus hubungan. Paling sering dilatarbelakangi kecemburuan. Puncaknya, menurut Mira, Lena ingin membunuhnya.
“Kau serius?” tanyaku.
“Lihat ini,” ujarnya seraya menyodorkan telepon seluler. Foto ban dan pelek mobil: forged alloy racing 17 inci, varian jari-jari. Dua dari empat bautnya tanpa mur. “Aku tak pernah suka mengendarai mobil dengan kecepatan rendah.”
“Kau yakin dia pelakunya?”
“Aku tak punya musuh lain.”
Mira menggeleng-geleng. “Kau tahu, Bung. Sebenarnya bukan perkara kematian itu yang kutakutkan. Aku cuma kaget, sekaligus sedih dan kecewa. Dia begitu cantik dan licin. Tak kusangka. Dia bahkan belum terhitung penyanyi dangdut kelas dua.”
“Lalu?”
“Aku tak mau konyol. Aku harus mendahuluinya.”
“Oh, Tuhan.”