Mira tersenyum. “Ini Cuma perkara cinta dan kematian. Tak usah bawa bawa Tuhan.”
Sepekan setelah pembicaraan ini, mobil Mira Marcela ringsek di jalan tol. Kanvas rem rusak berat. Keempat ban nyaris tanpa bunga dan pada pelek sebelah kiri depan, hanya dua dari empat mur yang masih terpasang. Pengemudi mobil yang dikenali sebagai Lena Marlena, terluka parah, dan akhirnya meninggal setelah dua hari dirawat di rumah sakit.
Beberapa jam kemudian Mira Marcela ditemukan tak bernyawa di kamar apartemennya. Seorang tetangga yang curiga melihat botol-botol susu teronggok berhari-hari di depan pintu, menghubungi polisi. Mira tergolek kaku di ranjang mengenakan kemeja putih kedodoran dan lingerie berwarna senada. Tak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya. Kedua kasus ini tak pernah tuntas.
Tiba tiba aku merasa mual. “Kamerad, pesananku sudah siap?”
“Bah! Anda bahkan belum memesan apa apa, Bung,” sahut Deni.
“Kalau begitu Teh Strawberry saja. Tambahkan sedikit mint. Kurasa aku masuk angin.”
Deni tergelak panjang.
2017
T Agus Khaidir, tinggal di Medan. Selain menulis cerpen, ia berkhidmat sebagai kolumnis sepak bola.
Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id