“Terima kasih, Bos. Sudah menyediakan tempat kami!” seru Jurik sambil menepuk bahu Mail.
“Untungnya kamu mengikuti arahan kami, sehingga tidak bernasib sama dengan tua bangka itu!” Mardito menimpali.
Mail tak langsung menanggapi seruan dua pemuda itu, tapi di hatinya ada bara api yang menyala-nyala. Beruntung, lelaki itu masih bisa beristighfar sambil memejamkan mata. Hanya saja, ketika ia membuka mata, lelaki yang baru saja menikah dua tahun itu menemui mata teduh perempuan yang selama ini dihormatinya.
“Ibu, tunggu!”
Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Mail, sambil mengejar perempuan bermata teduh itu.
***
Perempuan itu telah masuk dalam rumahnya dengan bersimbah air mata. Mail kembali memeras rasa sabar. Ia mengucap salam dan mengetok pintu, tapi tak ada sahutan dari pemilik rumah.
Migran lelaki itu mendadak kumat. Seolah-olah ada kunang-kunang betebrangan di atas kepalanya.
Dan ia kembali mengingat semuanya dengan lebih detail.
Saat itu, Mail masih kecil. Ia tinggal dengan kedua orang tua tak jauh dari lingkungan pondok pesantren. Ayahnya yang memiliki rambut gondrong itu merupakan salah satu ustaz sebuah mushala baru yang mengajar baca tulis Alquran. Akibat hal itu, ketentraman dalam rumah selalu tercipta.
Tapi, tak dinyana keindahan itu berlangsung sementara. Ada beberapa pejabat kabupaten yang datang mengunjungi ayahnya. Tentu selaku tuan rumah, tamu perlu di istimewakan. Apalagi ada sebuah pandangan jika dengan bertamu dan menerima tamu menambah rezeki. Hal itu ternyata benar-benar terjadi.
Si Pejabat Kabupaten itu memberikan beberapa juta demi pembangunan mushala. Sungguh, ayah Mail langsung menerima. Sekalipun ibu Mail tak menerima akibat takut jika uang tersebut merupakan suap demi tercapainya kepentingan Si Pejabat. Tapi, ayah Mail bersikukuh menerima pundi-pundi rupiah.
“Si Pejabat itu memberikan hal tersebut katanya sebagai nazar ketika terpilih. Dan bukankah pemilukada telah berakhir. Jadi, apa yang perlu ditakutkan.”
Mendengar penjelasan itu, Mail kecil dan ibunya menjadi lega. Pembangunan mushala pun langsung dilakukan. Mushala yang awalnya hanya berupa ayaman kayu berubah menjadi bangunan permanen dengan baluran semen. Akibatnya, santri di tempat tersebut bertambah.