“Anakku.”
Suara seorang lelaki yang begitu menggetarkan tubuhnya.
Mail langsung bangkit mendengar suara itu, ia segera memeluk Ustaz Hari. Mereka menangis sesungguhkan. Lalu, keduanya kembali bernostalgia saat membangun Mushala Nurul Iman secara bersama.
“Kamu tidak salah,” tegas lelaki tua itu sambil melepaskan pelukan.
“Rasa trauma yang dialamimu sewaktu masa kecil itu membuatmu melakukan hal tersebut.”
Mail melongo tak percaya penjelasan lelaki yang memiliki tahun lahir sama dengan ayahnya itu. Bukan apa-apa, sejauh ini tak ada satu pun yang tahu atas rasa trauma itu. Kecuali dirinya sendiri. Lantas dari mana Ustaz Hari mengetahui hal tersebut.
“Waktu kamu kecil, saya juga ada di tempat kejadian itu. Fitnah yang dialami orang tuamu itu jauh lebih kejam dibandingkan kita. Ayahmu tak hanya melawan preman yang merasa terganggu dengan aktivitas mengaji, ia juga melawan kelompok kecil yang iri dengan perkembangan pengajiannya. Dalam hal ini, tempat mengaji yang lain.”
Kening Mail berkerut mendengar penuturan Ustaz Hari yang dirasa tak masuk akal itu.
“Tapi, Allah membalas kelakuan mereka. Lambat laun fitnah itu hilang dengan sendirinya. Dan mereka yang memfitnah ketahuan juga aibnya. Sayangnya, masyarakat yang penuh penyesalan itu tak pernah bertemu keluargamu lagi.”
“Lalu, bagaimana mungkin saya tidak mengingat Ustaz sama sekali.”
“Karena kamu masih kecil, apalagi wajahku dulu begitu tampan dan tanpa kerutan seperti sekarang,” Ustaz Hari menjawab penuh tawa.
Mail sedikit lega mendengar penuturan Ustaz Hari. Ia juga sadar bahwa perjuangan yang dialaminya belum seberapa dibandingkan ayahnya. Oleh karena itu, timbul azzam di hatinya untuk kembali ke mushala.
“Sebentar lagi Ramadhan menjelang. Mari kita sama-sama memenuhi mushala dengan kalam-Nya. Aku akan kembali ke Mushala Nurul Iman,” jelas Ustaz Hari disambut senyum mengembang di bibir Mail.
Mail pun segera meminta diri. Di hatinya, ia merasa seperti lahir kembali.
Dan ketika Ramadhan datang, Mushala Nurul Iman kembali dipenuhi sesak orang yang mau terawih. Pada hari pertama itu, Ustaz Hari menjadi imam salat, sedangkan Mail memilih menjadi muazin.