Mencari Ustaz

Selain rezeki tersebut, ayah Mail juga membangun rumahnya dari uang menjual tanah di kota lain. Dan hal tersebutlah yang menjadi masalah.

Beberapa warga ada yang berspekulasi bahwa uang Si Pejabat itu dikorupsi oleh pengajar ngaji itu. Fitnah terus bergulir, semakin banyak masyarakat yang ingin mengusir keluarga itu. Rumah dan mushala dipenuhi coretan kata-kata kotor yang luar biasa. Anak-anak yang terbiasa mengaji dicegat dan disuruh pulang.

Kejadian tersebut membuat masyarakat di wilayah yang tak ingin diingat Mail itu terpecah menjadi dua, yakni kelompok yang pro dengan keluarga Mail dan kelompok kontra. Walaupun begitu, kelompok kontra memiliki massa yang demikian lebih banyak.

Mail kecil sudah dihadapkan pada trauma yang sedemikian berat itu. Mengingat bukan hanya ayahnya yang mendapatkan ancaman akan dibunuh, tetapi juga dirinya sendiri. Si Ayah bahkan harus menabahkan Mail berkali-kali, bahwa perjalanan yang mereka lakukan itu sebenarnya adalah ujian.

Dari ayahnya pula, Mail belajar tersenyum sekalipun nyawa mereka selalu diancam.
Tepatnya pada malam jahanam itu, kerusuhan pecah menuntut keluarga Mail pergi dari desa itu. Guna mengurangi amuk masa, keluarga Mail diamankan oleh kepolisian. Sekalipun keesokannya muncul rumor bahwa keluarga tersebut di pukuli hingga babak belur. Apalagi, sejak kejadian itu mereka tak pernah kembali ke rumah dan mushala yang dibangun dengan berdarah-darah.

Polisi sebenarnya berupaya melakukan mediasi, tapi keluarga Mail menolak untuk hal tersebut. Mereka lebih memilih hijrah ke tempat lain, sekalipun nahas sebelum menggapai tanah itu. Ayah dan ibu Mail dipanggil oleh Sang Pencipta.

Mail pun merasakan kesakitan dan kehilangan yang berlipat-lipat. Untungya, ia ditemukan oleh orang pesantren teman orang tuanya di jalan. Hingga ia bisa terus mendoakan kedua orang tuanya. Dan satu hal yang tak disangka-sangka Mail, jalan hidupnya kini tak jauh dari kejadian yang pernah menimpa orang tuanya.

Hanya saja, ia memilih jalan aman untuk menuruti permintaan preman yang merasa terganggu dengan kegiatan mengaji itu. Semua demi istrinya, juga demi menghilangkan rasa trauma sewaktu ia masih kecil.

Kenangan hitam itu benar-benar merasuki pikiran Mail. Bak sebuah film yang diputar jelas di depan matanya. Sungguh, ia merasa begitu kerdil dibandingkan usaha dan kegigihan ayahnya dalam berdakwah.

***

Arsip Cerpen di Indonesia