Begitu mereka akan menunaikan salat terawih, suara orang-orang bersahutan di luar mushala membuat jamaah berhamburan keluar.
“Kita harus mengamankan diri!” seru seorang bapak yang tak kuat lagi akan panas api yang menjalar di balik tembok mushala.
Ajakan tersebut membuat bapak-bapak yang lain untuk menerobos ke barisan jamaah perempuan. Mereka tak hanya berusaha menyelamatkan diri sendiri, tapi juga anak-istrinya.
Sementara itu, api semakin melahap semua yang ada dalam mushala.
“Mas…!”
“Bapak…!”
Sahut-menyahut kedua istri ustaz itu memanggil nama suaminya masing-masing. Tapi, suara itu tak segera ada jawaban. Hanya kobaran si jago merah yang menambah menyala-nyala.
Sejak itu, jamaah mushala yang baru hidup kembali itu tersadar bahwa kedua ustaz mereka masih ada dalam mushala.
Mereka pun segera berusaha memadamkan api, tak peduli keselamatan diri. Mengingat mencari ustaz tak mudah bagi lingkungan yang begitu siap terkobar api permusuhan.
Situbondo, 10 Juni 2017
Gusti Trisno. Aktif menulis cerpen, puisi, novel, dan resensi. Penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo ini lahir di Situbondo pada tanggal 26 Desember 1994. Saat ini, ia menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Jember. Ia pernah menjadi juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur 2016. Tulisannya dalam bentuk cerpen dan esai telah dimuat di beberapa media.