“Lain kali, jangan tangan cebokmu yang diangkat!” bentak Pak Dam padaku dengan kedua bola matanya yang hampir keluar dari kelopaknya.
“Pak…”
Pak Dam tak mendengarkan. Ia membalikkan badan dan kembali ke meja guru. Memanggil nama-nama murid setelah abjad namaku.
Tak sedikit pun ia memberikan kesempatan berbicara. Pak Dam hanya satu dari mereka, dewa-dewa yang membuatku membenci banyak mata pelajaran. Dewa-dewa yang membuatku membenci meja dan kursi sekolah. Dewa-dewa yang membuatku malas berangkat ke sekolah.
Taman kanak-kanak, tempat bermain, dan bersenang-senang, yang dipandu Ibu Gaja telah hilang. Sekolah jadi identik dengan penjara. Hinaan yang akan kau terima saat kau salah, sementara jangan mengharap apresiasi ketika kau benar. Dialog adalah hal yang hampir mustahil kau temukan. Guru adalah dewa yang maha tahu, sementara kau hanya objek yang tak tahu apa-apa. Kau tidak punya hak apa-apa selain mengamini dan dipaksa mengimani apa yang mereka ucapkan.
Kemana harus mengadu saat batin berontak? Kedua orang tuaku yang bertani, tak pernah mengikuti proses belajarku. Mereka tidak menanyakan tugas yang diberikan guru. Tidak pernah mereka menanyakan bagaimana aku di sekolah, siapa teman yang duduk di sebelahku, bagaimana kondisi toilet sekolah, apakah aku disenangi guru, atau bahagiakah aku ada di sana.
Satu-satunya rangkaian kegiatan sekolah yang mereka ikuti hanyalah ritual bagi rapor. Melihat angka-angka yang tercantum di deretan kolom yang aku sendiri tidak tahu asal-usulnya.
Aku skeptis sendiri dengan Negara ini. Ragu pada pendidikannya. Bak seorang yang mengejar agama, tetapi meragukan Tuhan. Demikian aku menjalani pendidikan. Teori berkata kalau pendidikan akan membawa kebaikan, tetapi sayangnya aku tak mengimaninya.
***