Pohon Ingatan dan Dewa-dewa

“Konteksnya yaitu Kementerian menyadari bahwa kita tidak bisa menilai kinerja mutu layanan pendidikan semata-mata menggunakan satu indikator. Jadi kita memiliki delapan standar pendidikan dan ujian nasional adalah salah satu dari indikator itu,” ujar menteri itu saat jumpa pers terkait pelaksanaan Ujian Nasional yang kusaksikan melalui layar televisi.

Ucapan menteri itu membongkar memori lamaku tentang guru yang diam-diam kukagumi sejak 2007. Tuhan teramat bijak mempertemukan kami, hingga citra buruk guru yang terdoktrin bertahun-tahun di benakku perlahan-lahan terhapus.

Saat itu, usiaku ada di angka enam belas. Selama itu, aku belum pernah melihat teladan seorang guru. Aku adalah Tomas, tokoh yang dikisahkan Alkitab hanya akan percaya pada kebenaran jika mataku sendiri yang melihat dan mengalaminya.

Sang Maha Guru melihat ketomasanku. Aku dipertemukan dengan guru yang bergabung dengan komunitas yang sama-sama menangisi pendidikan. Ia tak pernah bercerita tentang komunitasnya padaku. Tapi karena sikapnya yang berbeda dari guru lain, aku dibuat penasaran.

Bermodal uang kakak yang kuambil diam-diam, aku pergi ke warung internet. Jemariku menelusuri hingga kutemukan komunitas dan kegiatannya. Sulit kupercaya saat menemui ada guru dan komunitas yang mau memperjuangkan kualitas pendidikan berkarakter dan berhati nurani. Dalam laman yang kukunjungi, terlihat dengan tegas mereka mengatakan bahwa Ujian Nasional tak hanya kecurangan atau panggung sandirwara. Akan tetapi, telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan terstruktur.

Donna Alkamora nama lengkapnya. Disuruh menghadap kepala sekolah selang beberapa hari setelah pelaksanaan Ujian Nasional di sekolahku.

Aku dan tiga orang teman mengetahui pemanggilan itu sehingga kami berinisiatif duduk menunggu dengan perasaan dag-dig-dug di selasar ruang kepala sekolah. Kabar angin berhembus menyebutkan bahwa Bu Donna akan dipecat. Jujur, adalah penyebab pemecatan itu.

Arsip Cerpen di Indonesia