Beda dengan Bu Donna. “Matematika, mate ma hita” (Batak: Matematika, gawat, bisa mati) sebuah slogan yang tumbuh subur pada benak anak-anak kampung seperti aku. Slogan selama enam belas tahun itu mati terbunuh oleh Bu Donna. Di depan kelas ia bercerita tentang dunia, realita sosial, dan akhir-akhirnya bersambung pada rumus dan soal cerita yang terhubung.
Pesan Ausubel tentang meaningfull learning baru kupelajari di bangku kuliah. Ya, pada sebuah paragraf buku yang kupegang sekarang, dijelaskan bahwa pembelajaran yang bermakna adalah sebuah proses belajar di mana informasi baru akan dihubungkan dengan struktur pengertian yang sebelumnya dipunyai seseorang selagi belajar.
Pelajaran mesti terhubung dengan kehidupan manusia. Apa pun yang dipelajari di muka bumi ini, semuanya untuk manusia. Sekali pun saat manusia berbicara tentang dewa-dewa, batu, pohon, bunga, air, bahkan tentang hantu-hantu sekali pun.
Bagaimana mungkin pohon ingatanku akan Bu Donna tidak semakin subur karena paragraf di buku ini? Teladan hidup telah membuatku memiliki cita-cita menjadi guru sekaligus murid untuk orang-orang yang kuhadapi di kelas.
Iman pada pendidikan. Bahwa pendidikan bisa membawa kebebasan. Bahwa pendidikan tujuannya memerdekakan, bukan mendakwa dan memenjarakan seperti di bangku sekolahku dulu. Dialog adalah kunci ajaib yang telah menjadikan kami benar-benar dianggap ada.
Indah Nova Ida Manurung. Pendidik di BPK PENABUR Jakarta. Lahir di Sionggang Sumatera Utara. Founder Ngopi Pendidikan. Bergabung dalam Perempuan Puisi. Bersama timnya, sedang menggagas Kofarkor Foundation, sebuah wadah pendidikan yang modern dan humanis. Tulisannya dimuat di Kompas, Lampung Post, Rakyat Sultra, Koran Guru Belajar, Bestteens, dll.