Di anak tangga tempat kami menunggu, Edi membuka percakapan, “Eh, gimana? Jujur saja aku takut. Aku belum siap teguh pendirian pada kebaikan seperti yang dibilang Bu Donna. Sekalipun aku tahu menerima kunci jawaban dosa.”
“Sama. Tapi ini UN, loh. Kalau tidak lulus?” tanyaku menjawab.
“Iya sih. Kenapa harus UN yang jadi penentu kita lulus atau tidak. Banyak soal UN itu yang tak pernah kita pelajari di kelas,” Eria menambahkan .
Tak lama, Bu Donna keluar dari ruangan kepala sekolah.
“Ada apa kalian ramai di sini?”
“Bu, kami dengar ibu akan dipecat,” Edi memberanikan diri.
“Ah, siapa bilang. Semua baik-baik saja,” jawabnya singkat, lalu meninggalkan kami bertiga.
Kami tahu ada perpecahan di tubuh dewan guru. Ada kubu yang menolak pemberian contekan pada siswa, ada kubu yang telah lama menyiapkan contekan, serta ada kubu yang ada di antara keduanya. Kubu kedua ini memiliki anggota terbanyak. Tak lain demi reputasi sekolah. Demi masa depan sekolah yang entah.
“Bu Donna akan dipecat karena telah mencoreng nama baik sekolah kita. Ibu melapor ke dinas tentang bocoran jawaban UN yang sudah kita pakai itu. Kayaknya, Bu Donna tidak takut dipecat karena ulahnya,” kata Eria di satu pertemuan dengan kami.
***
Kagumku menanjak padanya pascapemanggilan itu. Guru yang telah membuka cakrawala mata dan hatiku tentang pendidikan, terutama pada pelajaran Matematika. Sampai saat ini, aku masih mengingat bagaimana pertama kali ia masuk kelas. Ia berdiri memakai baju hijau lumut membawa topik Statistika–mengajak kami berdialog lalu menjelaskan data tunggal, data berkelompok, hingga data berinterval. Caranya tampil di kelas dan di kehidupan nyata, menyisakan kesan istimewa pada pelajaran yang selalu jadi momok bertahun-tahun bagiku.
Matematika, jadi hantu yang menakutkan selama enam belas tahun. Guru-guru telah menggunakan mulutnya untuk menakut-nakuti kami yang dianggap tidak tahu apa-apa ini.