Musholla itu tidak terlalu besar dan tidak berpagar, sehingga ia bisa bebas masuk dan menggunakan toiletnya. Rasanya lega, dan tidak bisa digambarkan oleh kata-kata saat ia bisa menyalurkan hajatnya. Di saat ia sudah selesai dan keluar dari toilet, ia teringat untuk membasuh wajah terlebih dahulu agar efek mabuknya hilang. Grrr… rasa air dingin menyentuh kulit wajah pada dini hari benar-benar membuat matanya kembali melek.
“Assalamualaikum, Ustaz!”
Kardi melonjak kaget, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Bulu kuduknya merinding. Hampir-hampir saja jantungnya copot ketakutan karena membayangkan itu adalah jin penunggu musholla. Sebelum kemudian dia membalikkan badan dan sosok di balik pundaknya jelas terlihat. Tampak dua orang pemuda dengan memakai sarung, baju takwa, dan berkopiah. “Afwan Ustadz, saya malah membuat kaget,” ucap pemuda yang pertama sambil tersenyum.
“Wa..wa..waalaikum salam,” ucapnya sambil terbata-bata.
“Ustadz orang baru disini? Sepertinya baru lihat,” tanya pemuda yang kedua. Kardi hanya bisa mengangguk lemah sembari mencoba tersenyum. Sayangnya ia lebih terlihat seperti orang meringis daripada ter senyum. “Ya sudah! Sampeyan tunggu di dalam saja Mas. Azan kira-kira lima belas menit lagi.”
Karena merasa tidak enak dengan kedua pemuda itu, Kardi menurut dan masuk ke dalam musholla. Rasa-rasanya sudah bertahun-tahun lamanya sejak terakhir kali ia masuk ke dalam musholla. Dahulu, orang-orang di kampungnya selalu menggerutu setiap dia datang ke musholla. Terkadang dia bahkan mendengar bisikan-bisikan sinis yang mengatakan,‘wong mabuk kok shalat’ atau kalimat ‘memang shalatnya di terima?’. Perkataan itu semakin lama membuat ia risih. Maka akhirnya ia putuskan, daripada membuat orang lain terganggu, lebih baik tidak pernah datang sekalian.
“Wah kebetulan ada ustaz baru, Min,” ucap pemuda pertama kepada temannya sembari mengibas-ngibaskan air wudhu yang membasahi tangannya. “Iya, Jo, kebetulan banget. Mas, sampeyan yang jadi imam shubuh nanti ya! Pak Haji yang biasa men jadi imam shalat lagi sakit. Punggungnya kambuh lagi.”