Ditodong seperti itu, tentu saja membuatnya terkejut. Dia sudah lama tidak sha lat, bahkan dia sudah lupa bacaan shalat. “Bisa malu mampus aku kalau menjadi imam”, batinnya dalam hati. Segera dia menggelengkan kepala sembari menyatakan penolakannya.
“Ayolah, Mas, kami semua ndak ada yang pede jadi imam. Bacaan kami terbata-bata. Bisa malu kami kalau jadi imam.”
Ingin rasanya ia juga mengakui kalau ia jauh lebih buruk dari mereka. Jika mereka terbata-bata, maka ia bahkan sudah lupa urutan rangkaian shalat. Tapi entah kenapa untuk mengakuinya ia merasa malu dan takut diusir dari masjid ini.
“Tadinya kami pikir bakalan ndak ada yang gantiin Pak Haji. Saya kagum dengan sampeyan, jadi yang paling pertama datang ke masjid di pagi hari. Pertahankan terus Mas,” pemuda pertama yang dipanggil Jo itu menepuk-nepuk pundaknya. Kardi hanya bisa membalas dengan senyum.
Sebenarnya kalau dikatakan ia tidak pernah shalat, tidak juga. Dahulu semasa kecil, ia termasuk anak yang pintar saat belajar mengaji. Bahkan ia pernah mondok selama tiga tahun di sebuah pesantren. Namun sayang, kematian ibunya membuat ia berhenti mondok dan pulang ke kampung. Setelah kembali ke kampunglah pergaulan mengenalkannya dengan alkohol, hingga saat ini.
Memang pernah dahulu saat baru menikah, ia berniat untuk berubah karena rasa cinta kepada istrinya. Namun gunjingan yang didengarnya setiap kali ia ke musholla membuat ia risih. Ia merasa tidak diinginkan di masyarakat. Ia sudah terlanjur dicap sebagai tukang mabuk dan tukang judi. Sementara di warung remang-remang, ia menemukan orang-orang yang menghargai dan mau mendengarkan keluh kesahnya. Disitu ia merasa menemukan keluarga.